Mengunjungi Pesantren

Malam Sabtu kemarin, Pak Cik mengajak saya untuk mengunjungi Pesantren. Saya mengiyakan, setelah beliau menanyakan apakah sabtu pagi itu saya tidak ada pekerjaan. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari menyembul di balik cakrawala, kami berdua dengan motor Modenas membelah udara pagi yang masih dingin. Perjalanan ini mungkin pertama kali selama saya tinggal di Pulau Pinang.

Sebelumnya saya tidak banyak bertanya tentang tempat yang hendak disambangi. Bagi saya, pesantren bukan sesuatu yang asing. Sebelum memasuki areal pesantren, kami berhenti sejenak di warung untuk minum. Suasana kampung menyergap. Saya betul-betul menikmatinya. Karena sebelum berangkat telah minum kopi, saya hanya memesan teh panas dan mengambil sebungkus nasi yang dibubuhi ikan teri dan telor.

Tak lama kemudian, kami pun berangkat menuju pondok. Sesampai di sana, saya terhenyak sejenak karena begitu banyak orang yang sedang khusyu mengikuti pengajian tafsir Surat al-Kautsar. Sebagian menekuri kitab yang mereka bawa dan yang lain tepekur mendengarkan sang ustaz mengulas surat pendek ini. Kami pun mengambil tempat dan bergabung dengan jamaah di teras masjid. Tidak itu saja, di pekarangan tampak tenda yang dibangun semi permanen juga dipenuhi oleh jamaah.

Setelah hampir satu jam setengah, sang ustaz mengakhiri pengajian. Jamaah pun bubar, sambil menunggu sesi pengajian kedua. Kami pun beranjak, mencoba mengenal lebih dekat pesantren dan saya mencoba membaca asal usul jamaah. Mereka berdatangan dari sekitar Kubang Semang, tempat pesantren itu bertapak, dan mengusung latar belakang yang berbeda. Di tengah istirahat, para jamaah mengunjungi warung makan yang terletak di depan masjid. Malah, tidak hanya makanan yang siap saji yang dijual, keperluan sehari-hari juga digelar. Kegiatan ekonomi dan agama berada dalam satu kawasan dan satu waktu. Sebuah gagasan yang mungkin perlu ditiru.

Comments

Popular Posts