Manohara, Perspektif Malaysia


Sumber: Suara Merdeka, 16 Juni 2009
Palace says it is a private affair (New Straits Times, 3 Juni 2009)

KUTIPAN itu adalah jawaban istana terhadap hiruk-pikuk drama pelarian Manohara dari ”kekangan” Istana Kelantan. Kalangan istana melihat persoalan rumah tangga Manohara dan Tengku Temenggong Muhammad Fakhry Petra tidak seharusnya diusung ke khalayak.

Namun media massa Indonesia telah mengumbar kasus ini hingga yang terkecil, berbeda dari media Malaysia yang sangat berhati-hati mengulas isu ini karena menyangkut kerabat istana, institusi yang menempati posisi tertinggi dalam hierarki masyarakat. Bagaimanapun, kedudukan raja menempati posisi nomor dua setelah Tuhan dalam dasar Kebangsaan Malaysia. Malah lagu kebangsaannya pun memberi tempat istimewa kepada raja.

Kalau sang putri bukan dari Indonesia, mungkin persoalan ini tidak memaksa media Malaysia turut memuat berita heboh ini. Pemberitaan yang sangat gencar di Tanah Air telah membuka ”dalaman” Istana yang selama ini cenderung tidak dipublikasikan menempatkan media Malaysia pada posisi sulit. Apalagi, kasus ini telah melibatkan wakil pemerintah Indonesia dan wakil istana sejak awal. Meskipun demikian, media Malaysia, seperti The Sun, hanya sebatas mengulas kasus ini telah mendapatkan perhatian 10 televisi swasta, tanpa mencoba menekankan sensasi berkaitan dengan pelecehan fisik dan seksual yang menimpa Manohara.

Tak Tersentuh

Sebagai istri dari salah seorang kerabat istana, gelar Cik Puan untuk Manohara adalah sebuah jaminan kehidupannya akan bergelimang popularitas dan harta. Pesawat jet pribadi sang pangeran akan mengantarkan sang putri ke mana dia melanglang buana. Namun cerita indah itu tidak menjadi kenyataan. Sang putri menderita lahir dan batin karena ”mengaku” kepada media telah didera oleh Pangeran.

Tidak tanggung-tanggung, mantan model ini sesumbar mempunyai bukti rekaman dalam telepon genggam dan disimpan dalam compact disk sebagai back up. Sebaliknya, media Malaysia tidak memberikan ruang yang luas untuk bersuara bagi sang putri. Malah koran The New Straits Times (5/5/09) mencoba mengalihkan isu dengan membuat judul besar “Ibu Manohara masuk dalam daftar Interpol” (Manohara’s mum on Interpol arrest list).

Namun jauh berbeda dari media alternatif, seperti di blog aktivis terkemuka Hishamuddin Rais. Dengan nada kelakar, penulis terkenal Malaysia ini mengolok-olok Manohara yang dianggap bertindak durhaka dan tidak tahu diri karena lawannya adalah seorang ”untouchable” dan bahkan bisa mengutuknya menjadi batu akik.

Tentu, pernyataan ini bisa ditafsirkan sebagai kritik rakyat kepada istana secara halus yang selama ini tak pernah digugat oleh kawula. Hal ihwal istana yang coba ditutup rapi telah menjadi sorotan publik, sesuatu yang terlarang sebelumnya. Sosok anggota keluarga istana yang karismatik telah menjadi bahan olok-olok.

Celakanya lagi, drama ini telah mengungkit sesuatu yang tabu di negeri jiran. Pernyataan seorang VJ MTV Daniel Mananta (Detik, 5/5/09) bahwa sang putra mahkota itu adalah pedofil tentu makin memburukkan citra ”Kerajaan” Kelantan di publik Malaysia dan bisa memancing kemarahan rakyat Malaysia.

Agaknya komentar ngawur semacam ini tidak akan dikutip oleh media di sana, namun adalah tidak mustahil pernyataan keras tentang perilaku anggota keluarga Raja menjadi konsumsi media alternatif. Lagi-lagi, persoalan ini akan menempatkan Istana pada citra yang tak lagi keramat, setelah sebelumnya Istana Negara Bagian Perak dikritik keras oleh sebagian rakyat karena dianggap tidak adil dalam menyelesaikan perebutan kekuasaan antara koalisi Barisan Nasional dan Pakatan Rakyat.

Beberapa demonstran sanggup merebahkan badan untuk menghalang mobil yang membawa Putra Mahkota Perak, Raja Nazrin. Adalah tidak aneh jika adagium raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah berhamburan keluar dari mulut orang ramai.

Mengelak Sensasi

Sebenarnya cerita ini melengkapi kasus hubungan dua negara yang lebih seram, Ambalat. Jika dalam kasus terakhir melibatkan dua kuasa mengenai perbatasan, yang pertama berkait dengan perseteruan budaya. Bagaimanapun harus diakui Manohara adalah wakil dari budaya ”keterbukaan” dan Fakhri dibatasi oleh banyak aturan protokol istana.

Karena itu, masyarakat luas hanya mendengar pernyataan dari teman dekat Fakhri mengenai sikap istana. Apalagi, pihak kesultanan di sana cenderung menggunakan juru bicara dan lebih menyukai menggunakan kata-kata bersayap. Acara infotainment TV Malaysia juga tidak akan mengambil risiko untuk menyiarkan kasus ini secara gamblang, sebagaimana di Indonesia. Dengan demikian, publik Malaysia akan melihat kasus ini sebagai pertikaian rumah tangga biasa, tidak lebih.

Nyata, kejadian ini membuka mata hati kita bahwa kata serumpun tidak lagi ampuh untuk membuat kedua warga negara ini menjadi dekat. Padahal, kasus kekerasan suami terhadap istri semacam ini acapkali terjadi di masing-masing negara, namun tidak kemudian menyeret isu yang lebih besar bahwa Malaysia cenderung mengasari Indonesia.

Kesan ini tampaknya telah terpatri pada kebanyakan benak warga Indonesia bahwa apa pun yang berkait dengan hubungan keduanya selalu berakhir buruk. Untuk itu, biarlah Manohara menyelesaikan kasus pribadinya secara hukum.

Seyogyanya seteru Istana Kelantan ini tidak perlu menjadikan persoalan pribadinya sebagai panggung untuk menarik simpati dan menimbulkan hujatan masyarakat di sini terhadap kehidupan istana Malaysia. Bagaimanapun, media mempunyai peran untuk menjernihkan masalah ini agar hubungan baik antara dua negara tidak semakin kisruh setelah Ambalat menyeruak ke permukaan.

Lebih jauh, sejatinya kasus ini tidak perlu menjadi drama panjang di layar kaca dan media cetak, seandainya Manohara membawa kasus kekerasan rumah tangga ini ke pengadilan. Di Malaysia, suami yang melakukan kesalahan tindakan kekerasan menurut seksyen 127 Akta Undang-Undang Keluarga Islam (Wilayah Federal) 1984 bisa dihukum denda tidak lebih RM 1000 (sekitar 3 jutaan) dan penjara 6 bulan atau keduanya sekaligus.

Selain akta ini, Akta Kekerasan (Keganasan) Rumah Tangga 1994 menegaskan bahwa seorang suami yang telah memukul istrinya sehingga cedera fisik atau seksual, memungkinkan sang istri bisa meminta perlindungan pengadilan dan suaminya bisa dihukum jika terbukti bersalah. Selain itu, sebenarnya banyak lembaga swadaya masyarakat yang siap membantu memberikan pembelaan terhadap kasus seperti ini, seperti Sisters in Islam dan Tenaganita. Lalu, apa yang kau cari, Manohara?

Perempuan blasteran Bugis-Prancis ini sedang mencari keadilan. Di Malaysia, dia merasa tak bisa berbuat banyak karena kekuasaan sultan yang tak bisa disentuh. Pengakuannya yang direkam dan tersebar telah memengaruhi pandangan publik bahwa perselisihan ini mengandaikan David dan Goliath.

Sekarang, kasusnya sedang bergulir menuju pengadilan. Keduanya telah mempunyai pasukan pengacara untuk mencari kebenaran. Media Malaysia telah menempatkan diri sebagai corong suara dari sang Pangeran. Portal Berita Malaysia Kini mencoba untuk berlaku adil, sama-sama memuat berita dari kedua belah pihak. Jika demikian, kita tunggu saja dewi keadilan menjawab semua carut marut ini.

—Ahmad Sahidah,
Peneliti dan Doktor Departemen Filsafat dan Peradaban Universitas Sains Malaysia

Comments

Anonymous said…
*NUMPANG PROMO, ya...
Bagi-bagi penawaran super spesial TELKOMSEL! Khusus para pecinta... Temukan dia dan menangkan hatinya.. CARAnya? bergabung aja di layanan jodoh kami hanya dengan mengetik REG JODOH#P(untuk pria) , REG JODOH#W(untuk wanita) kirim ke 9789(khusus pengguna telkomsel yach.. ) Ayo segera ambil handphone Anda dan bergabung lach!!! Sapa tahu jodoh idaman Anda ada di layanan kami….^_*
terima kasih atas artikel berita Manohara nya

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Lautan Fragmen

Kebenaran dan Metode