Mengasup Sast[e]ra Melayu Nusantara


Hari Minggu sepatutnya berlibur, namun saya malah terdampar di ruangan berudara dingin untuk mendengar para pakar sastera Melayu Nusantara menemukan jawaban tentang apakah kekuasaan itu? Kemarin saya telah mengikuti sesi pertama, yang salah satu disampaikan oleh Prof Mohammad Haji Salleh bahwa konsep kuasa itu perlu didekonstruksi dengan merujuk pada pemikiran hubungan kuasa (power) dan pengetahuan (knowledge) Michel Foucault, filsuf Perancis kesohor itu.

Paparan sastrawan negara itu menggugat konsep absolute monarchy jika hanya dipahami bahwa kekuasaan itu hanya ada pada raja. Ternyata, dalam praktiknya, kekuasaan itu juga menyebar pada pembantunya, seperti bendahara, laksamana, pengarang, guru dan lain-lain. Jadi, raja bukan satu-satunya memerankan pemilik kekuasaan. Malah, ada raja yang hanya ada di atas kertas, seperti Sultan Mahmud, yang tak sempat mengurus negeri karena terlalu asyik dengan hobbinya berburu 'perempuan'. Namun, pada masa yang sama, A Rogayah Hamid menceritakan bahwa raja tak selalu digambarkan buruk, malah dalam Hikayat Upu Daeng Menambun, penguasa itu dilukiskan secara elok. Pendek kata, ada raja adil yang disembah, dan pada waktu lain, ada lalim (zalim), raja disanggah.

Jika demikian, di manakah sebenarnya kuasa raja jika dikontekstualisasikan pada masa kini? Inilah perbincangan yang memantik minat banyak peserta karena tak jarang menimbulkan masalah legitimasi, otoritas dan perubahan sistem. Namun, apa pun uraian mereka tentang konsep kuasa, ada yang mungkin perlu diketengahkan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan, vox populi, vox dei.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode