Wednesday, October 28, 2009

Sumpah Pemuda dan Dangdut

Dua kata judul di atas tidak berhubungan, namun keduanya tumpah ruah dalam sebuah pertemuan. Mereka, para pekerja, datang untuk menyongsong Sumpah Pemuda di DOM Komtar, pusat kota. Panitia pun mengerti bahwa acara ini tak melulu berisi sambutan, tapi juga nyanyian. Memang, ada dua tiga lagu pop, tetapi mereka lebih menyukai dangdut. Bahkan, lomba karaoke yang diselipkan di akhir acara makin mengukuhkan bahwa dangdut merupakan menu wajib karena kebanyakan peserta membawakan lagu, yang kata Rhoma Irama, berasal dari Arab, India dan Melayu Deli.

Kalau saya larut dengan ini semua karena salah seorang pekerja bersama penyanyi undangan melantukan Mandulnya Rhoma irama. Duet mereka betul-betul membuat saya hadir utuh. Perhatian selanjutnya dibetot oleh tingkah mereka yang berjingkrak kegirangan karena lagu-lagu dangdut itu membuat mereka melonjak tinggi, melepaskan rutinitas yang membosankan. Dandanan dan pakaian yang tak biasa membuat penampilan mereka seperti artis, sebuah ekspresi yang tak ramah di sebagian pandangan masyarakat di sana, celana robek atau berlubang, rambut gondrong, dan anting-anting.

Di panggung, seorang perempuan berjilbab tak canggung mengikuti lomba. Mungkin sumpah yang dibacakan sebelumnya, bagi mereka, tak perlu dipikirkan lagi karena sudah terpenuhi, satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Ada keinginan lain mereka yang sempat terekam bahwa Indonesia akan menyejahterakan mereka. Krisis ekonomi membuat mereka tak lagi bisa menikmati uang tambahan dari jatah lembur (overtime), karena pabrik membatasi produksi. Namun, mereka bersyukur karena masih bekerja dan berharap keadaan akan pulih seperti semula. Sebuah harap yang sederhana, memang, sesederhana mereka menyanyi dan menari dalam arena. Tidak lebih.

No comments: