Wednesday, February 24, 2010

Ruang Rehat (2)


Kembali ke ruang istirahat perpustakaan, saya mengambil CD musik bertuliskan Sufi Music: Islamic Mystics harness the power of music. Lalu, saya bergegas menyebut nomor pada petugas untuk memainkan cakra padat itu. Seharusnya diam, saya tak perlu membaca buku Amartya Sen berjudul Rationality and Freedom. Seraya memejamkan mata, saya mencoba menikmati musik instrumental yang didominasi oleh gitar, fluit dan gendang. Hanya lagu pertama, selanjutnya lirik lagu mengiringi alunan bebunyian: Arab dan India. Mereka berbicara cinta, ruh, hati, dan kekasih. Kata teman, jangan berpikir ketika memanjakan rasa, agar dahi tidak berkerut. Ekstase itu masih di awang-awang, belum diraih. Atau perasaan nyaman yang menjalar itu sebenarnya puncak pengalaman, seperti digagas Maslow?

Nanti, saya akan kembali lagi untuk menikmati musik etnik dan tradisional di tempat yang sama, agar tidak melulu mendengar lagu populer yang berserak di radio dan televisi, sebab kata Theodor W Adorno, itu produksi massal yang cocok untuk kerumunan. Masalahnya, saya merasa nyaman dengan yang populer itu? Di ruang itu juga tersedia musik jazz, tetapi terus terang kuping saya tak akrab, paling-paling masih bisa dipaksa jika mendengar Andin dan Saharani bernyanyi. Mungkin ini terkait dengan masa kecil yang tak pernah bersentuhan dengan musik berat, sebab anak tetangga kos dulu, meski masih belajar di sekolah menengah, Aji, nama anak profesor itu, telah berceloteh tentang musik yang ditelorkan oleh kaum Afro-Amerika.

Lalu, mengapa saya bisa menikmati musik sufi itu? Karena, musiknya akrab di telinga, tak lebih dari nyanyian Arab dan India. Mungkin, keakraban itu lah kata kunci dari keterasingan. Pendek kata kata, tidak ada yang asing, sebab saya bisa berusaha untuk mengenalnya.

2 comments:

Hapi said...

hello... hapi blogging... have a nice day! just visiting here....

Antyo Rentjoko said...

Jadi pengin dengar musik sufi itu, Bung. :)