Kembali ke ruang istirahat perpustakaan, saya mengambil CD musik bertuliskan Sufi Music: Islamic Mystics harness the power of music. Lalu, saya bergegas menyebut nomor pada petugas untuk memainkan cakra padat itu. Seharusnya diam, saya tak perlu membaca buku Amartya Sen berjudul Rationality and Freedom. Seraya memejamkan mata, saya mencoba menikmati musik instrumental yang didominasi oleh gitar, fluit dan gendang. Hanya lagu pertama, selanjutnya lirik lagu mengiringi alunan bebunyian: Arab dan India. Mereka berbicara cinta, ruh, hati, dan kekasih. Kata teman, jangan berpikir ketika memanjakan rasa, agar dahi tidak berkerut. Ekstase itu masih di awang-awang, belum diraih. Atau perasaan nyaman yang menjalar itu sebenarnya puncak pengalaman, seperti digagas Maslow?
Nanti, saya akan kembali lagi untuk menikmati musik etnik dan tradisional di tempat yang sama, agar tidak melulu mendengar lagu populer yang berserak di radio dan televisi, sebab kata Theodor W Adorno, itu produksi massal yang cocok untuk kerumunan. Masalahnya, saya merasa nyaman dengan yang populer itu? Di ruang itu juga tersedia musik jazz, tetapi terus terang kuping saya tak akrab, paling-paling masih bisa dipaksa jika mendengar Andin dan Saharani bernyanyi. Mungkin ini terkait dengan masa kecil yang tak pernah bersentuhan dengan musik berat, sebab anak tetangga kos dulu, meski masih belajar di sekolah menengah, Aji, nama anak profesor itu, telah berceloteh tentang musik yang ditelorkan oleh kaum Afro-Amerika.
Lalu, mengapa saya bisa menikmati musik sufi itu? Karena, musiknya akrab di telinga, tak lebih dari nyanyian Arab dan India. Mungkin, keakraban itu lah kata kunci dari keterasingan. Pendek kata kata, tidak ada yang asing, sebab saya bisa berusaha untuk mengenalnya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Bermain
Zumi dan kedua teman baiknya, Akmal dan Kiki, menunggu layangan putus. Meskipun mereka bisa membelinya, tetapi mendapatkan mainan secara ber...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Judul buku: Social Roots of the Malay Left Penulis: Rustam A SaniPenerbit: SIRD, Kuala Lumpur Tahun terbit: 2008 Jumlah halaman: ix+ 80 hala...
2 comments:
hello... hapi blogging... have a nice day! just visiting here....
Jadi pengin dengar musik sufi itu, Bung. :)
Post a Comment