Menemukan Intelektual di Media

Koran Tempo, 21 Februari 2010


Ahmad Sahidah PhD POSTDOCTORAL RESEARCH FELLOW PADA UNIVERSITAS SAINS MALAYSIA


Judul di atas tidak dimaksudkan untuk menjawab tulisan Dian R Basuki, “Di manakah Kaum Cendekia Kita?” (Koran Tempo, 7/2/10). Namun, ia hadir sebagai cara memandang lebih luas sosok cendekia. Tentu kita bisa merasakan kegundahan peminat masalah sains tersebut yang bermula dari ketiadaan jawaban dari hiruk pikuk perdebatan di ruang publik. hampir-hampir kepentingan politik berhasil menyembunyikan kejujuran. kehadiran para sarjana itu hanya menambah hingar bingar, bukan jalan keluar. Saya sendiri juga takjub, betapa media kita saban hari menghadirkan para ahli mengulas banyak isu, namun carut marut kehidupan di negeri ini bertambah sengkarut.


Kerisauan penulis juga bermuara pada intelektual muda yang berlomba-lomba menuju tangga kekuasaan. Magnet ini telah memerangkap mereka dan menjadikannya pribadi yang kelu. Namun, pernyataan ini tidak dengan sendirinya menafikan betapa banyak di luar sana kaum muda yang berpikir dan bekerja untuk sebuah perubahan. Mereka berkarya dan membincangkan gagasan baru untuk menjawab tantangan. Hampir setiap hari kita disuguhi beragam pandangan, baik di media cetak maupun televisi. Belum lagi, mereka yang bekerja di tempat sepi, yang tak terjangkau tangan-tangan media komunikasi.


Agar tak melulu pesimis, mungkin pengertian intelektual perlu dihadirkan. Edward Shil, misalnya, menegaskan bahwa sosok ini intelektual adalah orang yang memahami nilai-nilai tertinggi (ultimate values), baik yang bersifat kognitif maupun estetik, demikian pula hasratnya akan kesepaduan. Dia mempunyai kepekaan terhadap hal yang suci (the sacred), dan mencari serta hal yang acapkali berhubungan dengan simbol-simbol keseharian bukan konkret dan referensinya jauh melampaui ruang dan waktu. Meski tampak ideal, hakikatnya penulis The Intellectual and the Powers and Other Essays, memasukkan profesi dosen, seniman, pegiat dan wartawan sebagai sosok yang layak mendapatkan label intelektual.


Dengan demikian, tugas mengurai persoalan nilai berada di pundak siapa saja yang tak dikerangkeng oleh pandangan sempit dan mengutamakan keterjalinan pelbagai pendekatan. Boleh jadi kehadirannya mewakili kelompok tertentu, namun ia tidak menghalangi keterbukaannya untuk bertegur sapa dengan orang lain. Tidak susah menemukan mereka yang bekerja untuk tugas mulia ini. Kematian Gus Dur tidak berarti menenggelamkan mereka yang mempunyai pandangan terbuka dan gandrung kebebasan. Kepergiaan pembela multikulturalisme itu tidak secara otomatik mematikan api perjuangan.

Hanya saja, kebebasan pada waktu yang sama menantang suara intelektual sejati terdengar. Mereka yang anti-pluralisme pun mempunyai pemikirnya sendiri yang memproduksi gagasan melalui ceramah, radio, dan bahkan menyusup ke layar kaca. Bukankah kaum borjuis dan proletar juga telah melahirkan kelas intelektualnya sendiri? Patut diacungi jempol, jika media kita mencoba menengahi dua kelompok yang berbeda kontras ini untuk duduk bersama mendiskusikan isu yang sedang dipertaruhkan. Sayangnya, mereka yang selalu bersuara garang tak berubah, selalu saja dialog dianggap perang.


Namun tak dapat dielakkan, para intelektual pun berebut ruang di media. Mereka harus berlomba untuk tampil agar kebenaran memenangkan pertarungan. Masalahnya, khalayak yang beragam menuntut gagasan cemerlang itu tak perlu dibebani teori yang berlebihan. Effendi Ghazali akan membawa gaya bicara di depan televisi dengan bahasa kebanyakan, berbeda dengan tulisan kritisnya yang dimuat di koran. Jadi, tuntutannya sekarang adalah sejauh mana para intelektual itu menyampaikan pesan di medium yang berbeda. Jauh dari sekadar tuduhan liar tentang selebritas intelektukal, keterbukaan ruang ini membuat siapapun bisa menagih satunya kata dan perbuatan.


Tentu, intelektual yang disodorkan oleh Dian dalam tulisannya layak mendapatkan penghormatan. Soedjatmoko, Kuntowijoyo dan Sartono Kartodirdjo telah memainkan peranan penting sebagai mercusuar keadaban. Buah pikirannya telah mengilhami generasi intelektual sesudahnya. Namun, pada waktu yang sama, kita juga memerlukan intelektual yang menjadi kaki untuk menerjemahkan pemikiran para begawan. Selanjutnya mereka tampil di pelbagai lini kehidupan. Mengharamkan mereka memasuki kekuasaan hakikatnya mengebiri gagasan menjadi tindakan. Bukankah Václac Havel, bekas presiden Ceko, tidak menampik ketidak didaulat sebagai presiden?


Nah, dengan membuka ruang yang luas bagi peran intelektual, maka wajah muram debat publik yang menghiasi layar kaca setiap hari memantik sepercik harapan. Bagaimanapun, program ini telah memberikan kesempatan luas kepada masyarakat untuk aktif dan belajar bagaimana menyelesaikan persoalan. Paling tidak, mengikuti Jürgen Habermas, kesediaan pelbagai kelompok yang berseberangan untuk duduk satu meja mencerminkan proses komunikasi yang efektif, yaitu kesetaraan. Kehadiran moderator telah mengajarkan pembela kebenaran itu untuk mendengar dan sejajar di hadapan kelompok yang lain.


Demikian pula, kehadiran intelektual dalam acara pertunjukan wicara (talk show) yang menghibur, seperti Kick Andy (Metro TV) atau Satu Jam Lebih Dekat (TV One), memberikan pelajaran berharga bagi khalayak luas untuk turut merasakan apa yang dipikirkan oleh panutan mereka. Coba lihat, seorang intelektual pun adalah orang biasa yang mempunyai teman-teman biasa pula, sehingga terkesan manusiawi. Di sini, pikiran-pikiran cemerlang lebih mudah dikomunikasikan karena tak terganggu oleh aturan akademik yang kaku. Bukankah, sebuah gagasan itu bukan untuk diperam, tetapi disebarkan? Menjadikan gagasannya terpatri dalam buku hanya membuatnya dibaca segelintir orang.


Bagi saya, Mario Teguh dalam acara The Golden Ways telah berhasil menyemai ide tentang kearifan dengan bahasa yang mudah dicerna oleh orang ramai. Kehadirannya malah menantang para filsuf yang selalu berasyik-masyuk dengan neologisme rumit, yang pesan-pesannya hanya bersemayam di buku dan bundelan jurnal berdebu. Sejatinya, mereka yang bergelar orang pintar memanggul amanah untuk menjadi penerang bagi masyarakatnya. Bukankah para intelektual itu juga sebagian ada yang berperan sebagai penceramah dan pendeta? Tidakkah kata Stephen Hawking, penulis A Brief History of Time, puncak dari pencapaian pengetahuan adalah ketika pesan-pesannya bisa dipahami oleh setiap orang?


Bagaimanapun, kebebasan media yang dinikmati setelah era reformasi merupakan berkah. Isu yang selama ini dilipat telah mendapat tempat. Tak ada lagi patgulipat. Para intelektual diberi panggung untuk mengabarkan apa yang dipikirkan. Diam-diam, mereka sebenarnya sedang berusaha menyampaikan apa yang selama ini menjadi kegelisahan, apa yang disebut Dian, intelektual sejati. Rasanya, tidak terlalu sulit untuk merasakan ketulusan mereka yang acapkali tampil menyapa kita setiap hari. Namun, tidak jarang pula kita menemukan intelektual yang berburu kekuasaan sesaat turut mematut diri. Tetapi, adakah jutaan orang bisa dibohongi?

Comments

Popular Posts