Bangunan Minimalis


Saya menyukai bentuk bangunan teranyar di kampus, selain minimalis, warna coklatnya nyaman di mata. Sebentar lagi, ia akan menjadi tempat tambahan baru bagi penggila buku. Perpustakaan lama tak lagi mampu menampung koleksi, sehingga perlu ruang baru. Dengan berbentuk persegi, bangunan ini betul-betul memaksimalkan ruang, agar tidak terbuang sia-sia. Karena berada di kemiringan, bangunan ini menyisakan ruang paling bawah yang dimanfaatkan untuk tempat santai. Coba lihat kursi dan meja yang dipasang yang berwarna biru dan putih.

Sebelumnya, tapak gedung ini adalah lahan kosong, hanya rumput dan pepohonan mengisi ruang. Saya sempat menanyakan hal ini pada rektor pada sebuah pertemuan sastera remaja di Dewan Budaya tentang kelestarian lingkungan jika gedung batu menyesaki kampus. Dengan lugas dia menjawab bahwa universitas memerlukan perpustakaan. Namun demikian, pengelola kampus akan memerhatikan keperluan penghuni kampus terhadap lingkungan asri. Malah, tambahnya, ia telah memperhitungkan berapa pohon yang diperlukan untuk jumlah mahasiswa dan warga civitas academica yang lain agar mereka bisa mereguk udara dengan nyaman.

Demikian pula, aksesoris yang yang menempel dengan pola garis-garis memperlihatkan ketegasan. Sementara di puncak terdapat atap yang membuat suasana nyaman karena ada semacam perasaan terlindungi. Bukankan penaung itu berfungsi untuk menahan terik? Sebenarnya, ada banyak sisi-sisi menarik di lain tempat, namun tak mungkin gambar dari satu sudut bisa mengungkap seluruh. Hal menarik selain hal ihwal bangunan, pekerja Indonesia yang turut bekerja untuk menyelesaikan gedung ini kadang memakai kaos partai politik, tidak hanya Demokrat, tetapi juga partai lokal. Menarik bukan?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen