Percampuran

Adakah satu masyarakat murni? Sehingga, seorang tokoh, semisal Hitler, berusaha untuk menghilangkan orang lain untuk sebuah keaslian ras Aria? Jawabannya tidak. Hanya orang yang berpikir gelap mata meyakini sebuah keunggulan satu kaum atas yang lain. Sebuah petikan dari gambar di atas menjelaskan bahwa pertemuan itu sebenarnya keindahan, sementara pengakuan kesucian itu tak lebih dari bualan. Memang, dalam usianya yang sudah tua, manusia masih dikelompokkan sesuai identitas unik, yang kadang memerangkap mereka pada perseteruan.

Sebagaimana diterakan di dalam gambar, masyarakat minoritas India yang mempraktikkan kebudayaan Melayu disebut Chetti. Secara verbal, mereka berpakaian sebagaimana kebanyakan orang Melayu, seperti kebaya, yang juga diamalkan oleh bangsa Tionghoa peranakan. Namun demikian, mereka tetap menganut kepercayaan asalnya masing-masing. Namun, dari keberterimaan inilah ruang dan pertukaran komunikasi terjalin. Ada tanda-tanda yang bisa merekatkan, ada pula yang menjarakkan. Tinggal memilih salah satunya, manusia akan memberikan makna pada perjalanan hidupnya.

Namun lebih dari sekadar tanda-tanda luar, makna tersirat dari kebudayaan sebenarnya ingin menyampaikan bahwa aksesoris yang menempel pada tubuh manusia itu bersifat sementara. Keadaan sosial budaya tempat mereka lahir mendorong masyarakatnya untuk menjadikan penanda itu sebagai identitas. Percampuran simbol itu membuat lahirnya keunikan baru. Ini bisa ditafsirkan sebagai pertemuan suasana, yang akhirnya membuat satu sama lain saling berbicara, bukan memendam lara. Haruskah umur yang sekejap ini dihabiskan untuk bertukar nestapa?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen