Mengenal Petromaks


Lampu petromaks ini diambil dari dari Pameran Warisan Peranakan Tionghoa Asia Tenggara di perpustakaan Hamzah Sendut 1. Sebenarnya di pojok lain juga diperlihatkan pelbagai peralatan rumah tangga, namun gambar yang satu ini menyengat perhatian saya. Dalam peluncuran koleksi ini, ada banyak peninggalan Peranakan Tionghoa, seperti Sam-Sam, Jawi, Cetti dipamerkan. Meski mereka 'orang lain', tetapi percampuran dengan kebudayaan lain mengandaikan pertemuan dua pandangan hidup.

Mengenai lampu di atas, saya menemukan tulisan pada tutup berwarna putih made in Germany, sedangkan di tabung tempat minyak tanah tertera made in Sweden. Berbeda dengan petromaks di kampung saya, kebanyakan buatan China. Pada tahun 1980-an, ia boleh dikatakan termasuk barang mewah. Selain memerlukan biaya mahal, seperti kaos lampu, seingat saya bermerek kupu-kupu, dan boros minyak tanah, dibandingkan pelita kecil yang tahan hingga pagi. Sementara, petromak itu hanya dinyakan hingga jam 9-10 malam. Kehadirannya mengundang decak kagum banyak orang. Ia menggantikan sinar rembulan ketika sang bulan itu tak muncul.

Karena banyak pengguna, salah seorang di kampung membuka bengkel untuk petromaks. Selain pintar memperbaiki lampu ini, ia juga berperan sebagai imam masjid, yang selalu memimpin sembahyang dan membacakan tarhim di dua pertiga malam, menjelang subuh. Keahlian yang terakhir ini sekarang diturunkan pada anaknya, yang sekaligus guru madrasah saya. Setelah petromaks menghilang, hanya bacaan tarhim itulah yang menyeret saya ke masa silam ketika menikmati liburan di kampung. Masjid yang dulu berdiri tegak telah berubah total, tak secuilpun menyisakan aura lama. Menara, tempat beduk ditabuh, yang menjadi pintu masuk juga dibongkar. Pendek kata, ingatan tentang masjid kuno sama sekali tak berbekas, sebagaimana lampu listrik menggantikan petromaks.

Comments

Popular Posts