Lontara dan Jawi


Dua bahasa bersanding, lontara dan jawi, yang menceritakan tentang Syekh Yusuf al-Makassari. Keduanya mempunyai daya magis masing-masing. Namun, teraan itu tak bermakna jika kandungannya tak diurai. Di tangan sarjana, makam itu tak sebatas tempat bersemayam sang tokoh, tetapi juga menyimpan banyak cerita. Ia tak melulu tentang alam sana, tetapi juga di sini. Jelas, keberadaannya mengandaikan dua wajah manusia, jiwa dan raga.

Lontara itu seperti huruf paku Mesir kuno. Saya tak juga ingin mencari tahu bagaimana mengungkap cerita dari deretan huruf yang membuat kepala berdenyut. Bahkan, tulisan Jawi yang saya akrab pun memaksa kening berkerut karena standar penulisan yang tidak sama. Lagi pula, teraan di batu pualam itu hanya berisi kronologi sang tokoh, bukan ajarannya, jadi tak perlu memaksa diri untuk membaca berkali-kali. Tahun-tahun itu hanya penanda bahwa ada proses panjang sehingga Syekh Yusuf akhirnya berpulang ke alam baqa.

Samar-samar tebersit di benak, adakah perjalanan saya akan diperlakukan serupa? Kehendak untuk dirayakan mungkin bukan keinginan Syekh Yusuf. Menantu Sultan Ageng Tirtayasa ini sepenuh hati berbuat kebaikan tanpa pamrih, oleh karena itu sejarah mencatatnya dengan jernih bahwa sumbangannya pada kemanusiaan patut dirayakan.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode