Sisa Basah Hujan


Kemarin sore hujan deras. Butiran hujan yang tebal itu menandakan langit penuh, sehingga tumpah meruah. Di balik kaca, saya melihat awan gelap. Selalu saja, keadaan seperti ini menyenangkan. Esok, gumam dalam batin, semoga pagi akan cerah dan menerakan sisa basah. Ternyat benar, hari ini, ketika matahari naik sepenggalah, suasana kampus dan jalan tampak tentram, seperti nampak dalam gambar. Selalu saja saya riang melewati lorong berbatas bebatuan berwarna hitam putih dan rerumputan. Di sebelahnya, tempat pejalan kaki menelusuri taman. Ya, kampus yang didirikan tahun 1969 ini menjadikan motto Kampus dalam Taman sebagai penanda.

Kotak surat berwarna oranye itu sudah tak lagi basah. Demikian pula, warnanya masih cerah. Di tengah zaman orang beremail ria, ternyata surat manual masih berjalan. Nyatanya begitu. Kemarin, saya ke kantor pos kampus, masih banyak orang menggunakan layanan pos untuk bertukar sapa. Namun kebanyakan untuk keperluan pengiriman barang dan surat lamaran. Apatah lagi, ia tidak hanya melayani surat-menyurat, namun juga tempat pembayaran tagihan, seperti air, listerik, tv kabel (Astro), pajak kendaraan bermotor dan pengiriman uang Western Union.

Sisa basah sangat ketara pada hijau dedaunan. Jika kemarau menerma, banyak pohon meranggas, gersang. Ternyata, hujan itu mendatangkan berkah karena daun itu mendapatkan makanan. Ya, warna hijau dan putik yang segar bersemburat diterpa sinar pagi. Herannya, nyanyian burung selepas hujan terdengar lebih jernih. Mungkin mereka juga riang karena panas belakangan ini tak lagi membakar tubuhnya. Jika kenikmatan sesederhana ini, mungkin keluh kesah manusia tak perlu berhampuran di ruang udara.

Lagi-lagi, jauh dari sekadar basah. Hujan yang turun justeru memantik kaki untuk berjalan. Dengan payung di tangan, saya menggunakan sandal (bahasa Malaysia selipar, dari bahasa Inggeris slipper) menyusuri jalanan berkonblok dan beraspal. Suasana kampus bertambah sahdu karena pepohonan tak lagi pilu. Mempari dan Semarak Api itu tak bisa menyembunyikan keriangannya. Mungkin tak perlu lama, air yang tercurah dari langit itu hanya perlu membuat rumput bergeliat, naik dan dedaunan pohon tak gundul. Alahai, mendung ini membuat udara basah, mengenyah gundah.

Comments

annaz said…
Puitis sungguh kata-kata mas Ahmad... pasti mampu menghasilkan novel yang hebat pemikiran dan bahasanya

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen