Makan Malam dan Politik


Makam malam adalah peristiwa biasa. Namun jika dilakukan dengan kawan, siapapun akan menemukan banyak cerita. Di sini, kehidupan bermula. Tak percaya? Tanyakan saja pada Mas Yun, Mas Yatno, Mas Ayi dan Mas Taufik. Di sini, saya berkumpul dengan orang yang mempunyai pelbagai keahlian, seperti politik, manajemen dan biologi. Namun, herannya latar-belakang itu tidak memenjara mereka untuk bertukar pendapat.

Perjalanan menuju ke tempat makan tentu merupakan permulaan ngobrol apa saja. Mas Ayi sengaja memutar lagu-lagu lembut. Tak jarang tawa berhamburan. Isu politik nyelonong begitu saja. Partai Demokrat membuat langkah penyegaran dengan merekrut orang-orang muda. Lalu, Partai Keadilan Sejahtera berusaha bergeser ke tengah. Setelah sampai di lokasi, Pak Yatno membuka sedikit 'data' penelitian di lapangan tentang prilaku politik lokal. Nah, di sinilah cerita-cerita yang beredar di warung kopi tak sepenuhnya omong kosong. Dari informan, mahasiswa PhD sains politik itu menemukan banyak kabar menarik tentang premanisme (gengsterisme) dalam mempertahankan kekuasaan, baik di tingkat elit maupun lokal.

Lalu, saya membayangkan apakah hal yang sama juga terjadi di tempat kelahiran saya, tempat kaum santri bermukim? Semoga tidak. Meskipun dalam percakapan telepon sebelum hari pemilihan, salah satu konstituen dalam pemilihan kepala daerah memberitahu bahwa si anu memberikan uang. Agak miris, saya mendengarnya, meskipun ini tak mengganggu selera makan. Mungkin pada putaran kedua, aroma politik uang akan makin kuat, sebagaimana diterakan oleh teman di status facebooknya. Lagi-lagi, tulisan Mundzar Fahman di Jawa Pos beberapa hari yang lalu menari di benak, bahwa gaji sebagai bupati selama lima tahun tidak cukup untuk menutup biaya menjadi orang nomor satu. Wallahu a'lam.

Comments

Popular Posts