Merawat Bumi


Tas kertas itu bertuliskan Environment Friendly, yang bisa diterjemahkan ramah lingkungan atau di Malaysia dikenal dengan mesra alam (sekitar). Pembungkus berwarna coklat tersebut didapat dari toko apotek kampus ketika saya membeli pengukur suhu badan (termometer) buatan Swiss, Ravin Enema dan panadol soluble. Lalu, mengapa harus tas yang lestari? Karena bumi sekarang sakit. Ia harus dirawat, yang dalam sebuah opini di surat kabar, saya mengusulkan dengan hati (lihat "Merawat Bumi dengan Hati", Jurnal Nasional, 6 Mei 2010).

Namun, otoritas kadang perlu bertindak tegas untuk memastikan kepedulian itu berjalan efektif. Pihak Universitas Sains Malaysia melarang penggunaan tas plastik di kantin dan toko di lingkungan kampus. Malah di koperasi mahasiswa, kita tidak akan mendapatkan tas kalau membeli barang di bawah RM 5 (Rp 15 ribuan). Demikian pula, sedotan plastik tidak diperbolehkan untuk mengurangi penggunaan bahan yang memerlukan waktu lama untuk diurai (recycle). Terbayang jika pihak negara melakukan hal yang sama, niscaya orang ramai tak seenaknya memanfaatkan tas plastik dan bumi tak harus menanggung beban sampah yang merusak tekstur dan badannya.

Selain itu, upaya untuk selalu mengutamakan produk dalam negeri tecermin dari gambar di atas. Coba lihat pintu itu? Warung makan itu bukan franchise asing, namun lokal. Saya membeli bubur untuk anak, maklum si kecil dalam dua hari ini sakit. Sekali lagi, ini bukan sebentuk perasaan takut sesuatu yang asing, namun berusaha untuk mencintai milik kita sendiri. Apatah lagi yang asing itu memiliki kekayaan bejibun. Masihkan kita selalu mengisi pundi-pundi mereka? Memang tidak mudah, tetapi selangkah itu akan menuju tempat yang diidam-idamkan.

Comments

Popular Posts