Transportasi Publik

Naik angkutan umum (di Malaysia angkutan awam) bersama banyak teman-teman lain. Tak lupa, kami mengucapkan terima kasih pada Kak Khairunnisa Khaidir yang telah menerakan gambar di atas di facebook sehingga bisa diakses banyak orang, bukan pada sebentuk narsisme di atas, tetapi jauh dari itu bahwa kita harus melirik moda pengangkutan yang praktis, murah, ramah lingkungan (mesra alam sekitar) dan tentu memungkinkan ruang publik itu menyerlah. Secara fisik, bus Rapid Pinang ini masih kinclong, karena baru. Penyaman udara (air conditioner) juga berfungsi baik. Ruangannya dibagi dua: berdiri dan duduk di bagian belakang.

Tentu, pengalaman naik bus pulang sangat menyenangkan. Apakan tidak? Sang supir memutar lagu-lagu campuran, Barat, India, Melayu dan Indonesia, yang terakhir di antaranya Meggi Z dengan Benang Biru, Tommy J Pisa Di Batas Kota, dan Wali Band Cari Jodoh. Bahkan, ketika kendaraan berbadan besar ini telah berhenti di perhentian, saya masih ingin terus berada di dalamnya, siapa tahu ada lagu Rhoma Irama. Sayangnya, supir itu menggunakan kacamata, sehingga saya tidak bisa memastikan apakah ia pekerja Indonesia. Lalu, kami pun menuju tempat parkir sepeda motor depan Masjid kampus untuk pulang ke rumah. Tiket bus itu masih digenggaman untuk dijadikan penanda bahwa kami menikmati perjalanan.

Apa yang tersisa dari sekelumit cerita ini? Orang senang itu mempunyai sudut pandang. Jika pikirannya disangga falsafah, maka ia akan melihat segala sesuatu dengan seluruh. Dengan angkutan umum, saya telah bertemu dengan orang lain, bukan orang asing. Ingat anekdot anak kecil dan ibunya, di mana si kecil bercerita bertemu orang asing, lalu sang ibu menimpali, bukan nak! ia orang yang belum kamu kenal. Kedua, belajar bersabar, karena kami menuju lokasi dengan cara melingkar, perlu waktu lama. Ketiga, kami merasa telah menyelamatkan bumi, sebab angkutan umum sama dengan 86 mobil. Dengan kata lain, ia telah menghemat energi. Keempat, kami menemukan kejutan-kejutan. Ya, seperti saya tiba-tiba mendengar lagu Tommy J Pisa, yang dengan kuat menghentak menyeret saya ke masa kecil. Kelima, si kecil itu belajar multikulturalisme secara nyata. Yang terakhir ini diletakkan biar keren euy! :-D

Comments

annaz said…
Ya, bus RapidPenang yang selesa

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen