Kami Peduli

Hari Sabtu, para mahasiswa dan pekerja asal Indonesia di Pulau Pinang senantiasa duduk bersama, mendengar dan bertanya hal ihwal keagamaan di Masjid Kampus al-Khalid. Secara bergiliran, para ustaz tampil untuk berbagi dengan warga agar batin mereka tak meranggas. Selain mengasup pengetahuan, mereka pun menjalin silaturahim. Di sini, gagasan lain bermunculan, tak melulu tentang bagaimana merawat iman, tetapi juga lebih jauh menyuburkan amal kebajikan. Bahkan, sebagian lain memupuk literasi kesusastraan di sini.

Mengingat negeri dirundung bencana, para mahasiswa mengambil inisiatif untuk mengumpulkan dana bagi korban gempa, banjir dan letusan Merapi. Mungkin, sumbangan itu tak banyak, namun keprihatinan ini semoga berguna bagi mereka bahwa korban tak sendirian. Bahkan, di akhir acara pengajian, sang ustaz, Bapak Riswan, memimpin doa agar mereka tabah dan siap untuk terus berusaha keluar dari nestapa. Bagi kami di sana, jalan selamat, tema pengajian, adalah perwujudan dari doa-doa kami dalam surat al-Fatihah, agar kami menemukan jalan lurus (sirat al-mustaqim), jalan para hamba yang diberi nikmat, yaitu para nabi, pencari kebenaran, martir dan saleh.

Selanjutnya, di bawah koordinasi Persatuan Pelajar Indonesia Universitas Sains Malaysia, mahasiswa mengedarkan kotak sumbangan di kampus setelah mendapatkan izin dari rektorat. Meski negeri tetangga ini juga dilanda banjir, namun warga di sana turut menyumbang sebagai bentuk kepedulian. Dengan menanggung bersama, kita akan menjadi manusia yang tak lagi melihat cobaan ini adalah hukuman, tetapi pelajaran untuk menata hidup bersama lebih baik. Semoga! Dalam keadaan seperti ini, satu sama lain saling menyangga agar penderitaan ini tertanggungkan.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode