Memahami Sesat

Kami pergi untuk memahami fenomena ajaran sesat. Sebelumnya, saya ngobrol dengan kawan karib, Ismae Katih, peneliti, tentang sisi sosiologis dari kaum sesat. Ternyata, individu atau kelompok yang dianggap menyimpang itu sepatutnya tidak hanya dilihat dari sisi teologis, tetapi juga sisi lain yang menjelaskan mengapa mereka mengambil jalan yang berbeda. Adakah ini juga petanda bahwa pengawal agama gagal menyapa mereka? Jangan-jangan kita pun turut abai karena tak peduli.

Untuk menambah pengetahuan, kami pun pergi ke kantor agama propinsi, berjumpa salah seorang pegawainya untuk berbagi cerita. Di sana pun, kami mencoba mencari asal-muasal ajaran sesat, tetapi juga bertukar kabar tentang genealogi pemikiran keagamaan di Pulau Pinang dan sekitarnya. Mungkin, ini akan selalu terjadi, kita akan berbincang hal ihwal di luar kewajiban, mencari tahu tentang pertanyaan penelitian. Lalu, setelah informasi di tangan, kami pun pamit dan sempat berfoto di depan kantor. Malah, kami sempat membeli goreng pisang dan ketela.

Selanjutnya, kami berempat, Halim, Ismae, dan Saiku menuju pantai. Di sana, cerita mengalir sahdu di tepi laut yang berlatar jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Kebetulan, si pemilik kedai mau bergabung dan bercerita bahwa pihak berwenang memintanya untuk pindah karena warung ini tidak memenuhi syarat, seperti tempat pembuangan air kumbahan, fasilitas kamar mandi dan tentu mengambil ruang publik, pantai. Aha, ternyata saya selalu menemukan masalah setiap kali ingin mengerti tentang hidup.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen