Titik Temu antara Proyek dan Kelestarian


Acara pengukuhan guru besar (profesor) di kampus kali ini menggema jauh. Spanduk telah dibentang jauh hari sebelumnya. 3 November 2010 adalah hari perayaan sebuah prestasi, sebagaimana ini telah dilakukan di Yunani. Dosen arsitektur, Omar Osman, membawa pidato itu dengan judul "Pengurusan Projek dan Kelestarian: Titik Pertemuan". Namun, acara tersebut tak melulu tentang kuliah umum yang dihadiri oleh banyak orang, tetapi juga melalui pameran apa yang telah dilakukan kampus untuk mendekatkan mahasiswa dengan lingkungan agar tak punah.

Ruang pameran di depan gedung pertemuan Dewan Budaya mempelihatkan papan yang berisi hal ihwal apa yang telah dilakukan mahasiswa dalam pelbagai kegiatan, kebudayaan, olahraga dan program penyelamatan alam. Malah, panitia penyelenggara sempat membawa alam buatan di mana air menyembur pelan di sebuah gentong hitam. Gemericik itu beradu dengan suara manusia. Di ujung, sekelompok orang menampilkan persembahan Silat Gayung yang diiringi bebunyian. Sambil menunggu kehadiran Raja Muda Perlis, hiruk-pikuk berjalan serentak.

Di acara inti, penyampaian kuliah, semua yang hadir tampak khusyuk mendengar uraian tentang pentingnya mempertemukan kepentingan modal dan idealisme tentang kehidupan yang berkelanjutan (di Malaysia, kata sustainable diterjemahkan dengan lestari). Sang profesor menyadari bahwa uang itu menggerakan pembangunan, namun kalau tak ada kuasa yang mencegah efek buruk dari 'keserakahan', biaya perbaikan akan menelan modal dan bahkan mendatangkan bencana, seperti terjadi pada penggundulan hutan di Sumatera. Tujuh unsur penting untuk mewujudkan harmoni adalah institusi, governans, sumber, bakat, luaran dan metodologi.

Lalu, setelah kuliah usai, peserta berhamburan ke tenda untuk makan siang.


Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Lautan Fragmen

Kebenaran dan Metode