Merayakan Peristiwa


Semalam, saya menulis di twitter, menyahuti kicauan teman, Irfan Syauqi Beik, bahwa pagi ini saya akan berolahraga seraya menambah kata, umat harus kuat, agar cermat. Tahun baru Islam, yang dikenal dengan peristiwa hijrah Nabi, tentu menjadi titik penting untuk menentukan resolusi. Sayangnya, pagi ditingkahi hujan, sehingga saya tak bisa menunaikan janji, namun kami menebusnya di sore hari, menikmati trek stadion kampus. Si kecil pun dengan riang berjalan ringan, perlahan.

Saya pun berlari mengelingi trek untuk memeras keringat. Baru tiga putaran, saya berhenti karena melayani perbincangan kawan baru. Isterinya adalah teman ibunya Nabiyya. Jadilah, kami pun ngobrol ringan. Sebelum berpisah, saya berpesan kalau ada waktu keluarga itu menghadiri pengajian Sabtu pagi di masjid kampus, lumayan untuk menjalin silaturahim. Lalu, saya pun melaju lagi untuk meringankan tubuh. Ya, saya merasa tubuh ini makin berat dan malas jika tidak bergerak, terlalu asyik duduk di kursi memelototi komputer. Tak perlu waktu lama, kami pun beranjak dari stadion menuju warung Mamak (India Muslim), Istimewa, untuk mengasup roti canai.

Terus terang, di warung ini kami bisa menikmati keriangan karena lokasinya yang menyenangkan, luas dan bersih. Dari sini, kami pun masih sempat melihat bukit yang hijau, tak jauh. Di sela-sela menikmati roti, selain melihat tingkah si kecil, saya pun membaca berita koran yang mengupas tentang perayaan tahun baru Hijriyyah. Ia menegaskan kembali apa yang disampaikan ustaz dua minggu yang lalu, bahwa hijrah itu secara etimologi meninggalkan yang pertama, menuju yang kedua atau lawan dari tetap. Ya, melangkah dari rumah ke stadion adalah hijrah kecil.


Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode