Perempuan Politik

Ketika hari libur, Ahad, kaum ibu tentu menjadi penjaga keluarga, menikmati masa luang. Namun, mungkin untuk ke sekian kalinya, mereka mengorbankan waktu bersantai dengan anak dan suami, mengikuti perbincangan tokoh wanita UMNO, Aishah Ghani dan Khatijah Sidek di Kepala Batas. Pertemuan ini semacam ini tentu seperti perhimpunan politik yang lain, namun ia bukan acara kampanye yang gegap-gempita, tetapi perenungan.

Begitu banyak dosen mengupas peran dua tokoh di atas untuk menjadi bahan renungan bagi langkah mereka ke depan dalam menekuni dunia politik. Ia tak lagi tentang kemenangan kursi, raihan kekuatan, tetapi lebih jauh apa yang dilakukan dua perempuan luar biasa itu untuk mengangkat harkat kaum ibu. Menariknya, saya sempat berjumpa dengan peserta yang pernah berteman dengan Khatijah Sidek, Ibu Fadilah binti Hasan. Meskipun sudah berumur, beliau masih bersemangat untuk hadir dan mengajak teman-temannya yang lain. Keikhlasan masih terpancar dari wajah tuanya yang jernih. Dalam sesi pertanyaan, dengan lancar beliau bercerita tentang masa kecilnya, di mana perempuan Melayu pada waktu itu tak berani mengucapkan merdeka.

Khatijah Sidek mendobrak kebekuan dengan menjahit kata merdeka di sapu tangan. Ia rela menjadi madu, meskipun tak menyukai poligami, hanya untuk membuatnya leluasa bergerak, membangkitkan semangat kemerdekaan kaumnya. Perjuangannya tentu menjadi teladan, karena ia melawan penjajah tanpa pamrih dan sangat gigih. Meskipun ia pernah duduk sebagai orang nomor satu di Wanita UMNO, ia tak tergiur untuk menumpuk kekayaan. Harta benda yang sempat dihibahkan pada lembaga sosial adalah kursi roda, yang menemani hari-hari terakhirnya.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen