Temasek

Ini adalah pengalaman perjalanan kedua ke negeri Temasek. Dulu, saya melakoninya dengan teman baik, Mas Tauran, setelah mengikuti kongres Persatuan Pelajar Indonesia di Johor, tepatnya di Universitas Teknologi Malaysia. Jika yang pertama dengan jalan darat, sekarang bersama keluarga saya menempuh dengan jalan udara. Pertama kali, burung besi mau mendarat, saya melepaskan pandangan ke bawah, sekitar lapangan terbang Changi terbentang hamparan rerumputan dan pepohonan yang menghijau, tersusun rapi dan cantik.

Setiba di gedung bandara, kami menuju ke tempat pemesan penginapan. Dengan lincah, Encik Francis mencarikan tempat dan menjalin komunikasi. Sebelum memastikan, beliau sempat bertanya apakah saya pernah menginjakkan kaki ke negeri ini? Ya, ke Little India, dan beliau tersenyum, mungkin membayangkan kelas penginapan yang saya tempati dulu, sebuah losmen. Lalu, dengan ramah dia menjelaskan tempat-tempat menarik, sambil mencoret peta dengan lingkaran dan menunjukkan penginapan. Kami pun beranjak, dan sempat bertanya pada meja informasi tentang pemesanan taksi, dan dengan agak terkejut, perempuan muda itu menjawab dengan logat bahasa Indonesia, "nggak pakat tiket, langsung antri!"

Kami pun berdiri menunggu taksi yang akan membawa kami ke penginapan. Tak lama kemudian, kami pun dipersilahkan oleh bapak tua, koordinator taksi, sebagaimana tertulis di baju rompi. Sang supir ternyata enak diajak ngobrol. Kami pun bertukar sapa dan cerita. Encik Selamat bin Ismail, tertera di kartu nama di atas dashboard mobil, berbicara banyak tentang keluarga, lingkungan, dan pengalaman naik haji. Malah ketika saya menyebutkan asal dari Madura, serta merta ayah beranak dua ini menimpali, oh, menantu saya berasal dari Boyan (sebutan untuk Bawean, Gresik) di Singapura atau Malaysia. Oh ya, ada pesan terkhir dari beliau yang saya simpan dalam benak, jangan tinggalkan shalat, ketika semua sudah ada di tangan. Terima kasih, Pak Cik.

Sesampai di penginapan, saya mengambil gambar di atas, tembok batu.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen