Tukang Sayur

Tukang sayur itu menggunakan lori (truck) untuk menjual dagangannya. Ia hadir setiap hari pada jam 10-11. Sebelum mendatangi flat kami, penjual itu naik ke atas, blok flat sebelah. Lalu, beberapa menit kemudian, ia pun menghampiri blok 330 seraya mengitari flat dan membunyikan klakson. Saya sering membeli tempe dan daun bawang. Sekali-kali ayam dan bawang putih. Tak banyak yang saya beli, termasuk pembeli lain. Mungkin, mereka akan berbelanja banyak di pasaraya, yang tak jauh dari rumah kami. Benarkah harga keperluan sehari-hari di lori itu lebih mahal dibandingkan dengan penjual sayur keliling? Ya, tapi selisihnya tak banyak.

Mengapa mereka tak mau membeli banyak barang dagangan mereka? Mungkin saya perlu menanyakan hal ini pada ibu-ibu yang sering mendapatkan sayur-mayur dari lori itu. Menurut saya, harga tempe sebesar RM1 sama dengan Pasar Malam Tun Sardon. Sayangnya, barang ini tak ditemukan di TESCO. Bisa jadi, pembeli tak mendapatkan poin dari nilai pembelian sehingga mereka tak perlu mengeluar uang banyak untuk mendapatkan barang. Atau, ibu-ibu tak nyaman memilih barang hanya dalam hitungan menit, berbeda dengan di pasaraya, mereka bisa bebas memilih dan menelisi kualitas barang.

Tin-tin-tin, bunyi klakson itu adalah sebagian bunyi yang akrab di telinga kami. Penjual itu bertaruh dengan pemodal besar. Mungkin kelebihan, para pembeli bisa bersua dengan pemilik, berbeda ketika mereka mendapatkan barang di pasaraya TESCO, yang pemiliknya orang Yahudi itu. Masalahnya, apakah semudah ini kita menerakan hal ihwal kepemilikan sebuah perusahaan, sementara batas-batas itu mencari karena saham dan pekerja mengandaikan keanekaragaman. Sebagaimana tukang sayur itu, hubungan niaga apa pun netral.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode