Jum'atan, Untuk Apa?

Untuk keempat kalinya, saya menunaikan salat Jum'at di masjdi AlBukhari. Siapa pun akan terpesona dengan bangunan masjid yang dimiliki pengusaha ternama, Syed Muchtar Albukhari. Selain bersih, reka bentuk masjid ini juga menyerlah indah. Uniknya, ia adalah bagian dari satu kawasan yang terdiri dari pelbagai peruntukan, mal (suq), pemakaman, dan universitas internasional. Tadi, saya sempat berjumpa dan bersalaman dengan Prof Dzulkifli Abdul Razak, yang sekarang menjadi rektor Universitas AlBukhari. Padahal dulu, ketika menyelesaikan PhD di Universitas Sains Malaysia, saya tak pernah berbicara dengan Naib Canselor yang berhasil membawa USM pada tingkat akademik yang membanggakan.

Pada hari tersebut, khotib membicarakan etika pendidikan anak. Dengan mengutip hadits yang diriwayatkan Al-Tirmidzi, pengkhotbah menyampaikan pernyataan Nabi bahwa anak-anak itu adalah bunga-bungaan dari surga. Sebagai anugerah dan amanah, anak-anak harus diperkenalkan dengan hal-hal prinsip dalam agama, yaitu ketuhanan, kerasulan, salat dan kitab suci. Untuk kali ini, kandungan khotbah tampak lebih membumi, dibandingkan dengan isu-isu sebelumnya yang selalu memanaskan telinga, seperti ancaman Barat terhadap Islam, bahaya penghancuran akidah umat oleh pihak lain, sementara musuh itu adalah nafsu kita sendiri (Silahkan rujuk al-Muhasibi, dalam Kitab Risalah al-Murtarsyidin).

Selain itu, saya juga turut memerhatikan keadaan jamaah, dari segi etnik, negara dan pakaian. Perbedaan itu tak lagi menjadi penghalang untuk berada dalam satu ruangan. Pakaian yang melekat kadan bisa dijadian penanda asal-muasal, meskipun kita tak bisa mengatakan mereka yang menggunakan jubah adalah orang Arab, tetapi warga lokal yang telah menunaikan ibadah haji. Di tengah jalan, saya sempat terserempak dengan orang-orang kampung halaman yang memakai sarung juga sedang menuju masjid terdekat. Mungkin, kita menganggap Jum'atan adalah ibadah rutin, tidak lebih, tanpa pernah memberikan kejutan, untuk apa? Kalau sekadar datang mendengarkan khotbah dan menunaikan salat dua rakaat, lalu umat pulang tanpa bisa mengubah hidup mereka lebih baik, maka sudah saatnya Jumatan itu diberi daya kekuatan untuk jauh lebih menggugah kesadaran terhadap isu-isu terkini.

Andaikata saya menjadi khotib, saya akan senantiasa mengulas isu kemanusiaan dan kealaman. Untuk itu, saya akan membincangkan isu-isu anti perang, anti kekerasan dan penyelamatan alam ini dengan memulai langkah kecil agar umat tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, mengutamakan angkutan umum, dan tidak hidup bermewah-mewah, karena hidup yang terakhir ini adalah kepalsuaan. Apa pun, Jum'atan adalah ruang yang paling mungkin untuk menanamkan pengetahuan untuk berbuah tindakan.

Comments

Popular Posts