Madura Kosmopolitan, Mungkinkah?


Setelah jembaan Suramadu berdiri kokoh, apa yang ada di benak kita? Kemajuan berada di depan mata. Dengan beton penyambung Kamal dan Perak, arus barang dan orang akan jauh lebih deras mengalir dari kota ke seluruh pelosok Pulau Garam. Belum lagi, jauh sebelumnya, seorang taipan pernah mengumbar janji akan membangun pabrik semen setelah jembatan dibangun, meskipun hingga kini wujud pabrik itu masih berupa tanah yang hanya dipatok papan tanda akan dibangun pabrik semen. Sembari menunggu industri berkembang, kita mungkin perlu memikirkan apakah tanah Madura ini akan menyandang predikat kosmopolit pada masa depan?

Pastinya, denyut negeri ini terus bergerak. Orang-orang luar semakin mudah untuk mengunjungi Madura, meskipun hanya berhenti di perbatasan jalan masuk, sekadar menikmati jembatan terpanjang di Indonesia. Kehadiran mereka tentu menguntung penjual kelontong di sepanjang jalan di bibir jembatan. Para penjual itu tidak hanya menangguk untung, tetapi pada waktku yang sama menjadi orang terdepan dalam mengenalkan barang khas lokal, seperti batik dan cenderamata. Pada waktu yang sama, mereka bertanggungjawab untuk menjadi warga yang mencerminkan nilai-nilai kemaduraan.

Lalu, apa kaitannya dengan kosmopolitan? Dengan merujuk pada pengertian kosmopolitan sebagai keadaan masyarakat yang menyepakati adanya komunitas moral tunggal, maka tantangan ke depan terbentang di depan mata. Moralitas di sini mengacu pada gagasan tentang nilai-nilai universal bersama yang disepakati. Betapa pun warga terbelah dengan perbedaan pilihan organisasi keagamaan, partai politik dan bahkan cita rasa kebudayaan, namun kita mewarisi nilai-nilai kemaduraan yang disangga oleh ide besar tentang bapa, guru dan rato. Tiga soko guru ini adalah cermin dari keadaan masyarakat. Ketiganya juga mempunyai tanggung jawab yang sangat besar untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang lebih baik.

Orang tua, misalnya, adalah sosok yang menjadi panutan. Kemajuan negeri ini bisa dilihat dari apa yang dilakukan oleh mereka dalam mewariskan tabiat dan pengetahuan pada anak-anaknya. Prilaku anak jelas-jelas menggambarkan apa yang telah ditunjukkan oleh bapak dan ibunya. Dengan mengacu pada telaah psikoanalisis, bahwa prilaku masa dewasa adalah pengulangan kebiasaan masa kecil, maka peran orang tua begitu besar dalam menciptakan suasana si kecil agar anak-anak itu menemukan dunianya dengan riang. Sayangnya, tidak jarang kita pun acapkali melihat orang tua yang melampiaskan kejengkelan pada anaknya dengan kekerasan, baik lisan maupun tangan. Tak perlu penelitian mendalam, Anda bisa melihat dari dekat betapa kondisi kejiwaan anak adalah kepanjangan dari tingkah orang tuanya.

Nah, mengingat perkembangan anak juga ditentukan oleh guru, maka kehadiran orang yang layak digugu dan ditiru ini adalah penyeimbang dari kemungkinan kekerasan simbolik dan fisik di rumah. Oleh karena itu, betapa mulianya tugas guru untuk memberikan jalan bagi anak murid dalam meneroka dunia. Tentu saja cara pengajaran dan pembelajaran perlu diperbaharui, agar para murid mempunyai bekal dan keterampilan dalam menyonsong masa depannya. Misalnya, teori Gal’perin yang mengulas isu dan asal-usul otak dan perubahan kognitif. Seraya mengembangkan gagasan Vygotsky tentang perkembangan manusia, Gal’perin menegaskan bahwa proses mental seharusnya dipahami sebagai tindakan material yang mengalami transformasi dan pendarahdagingan (internalisasi) yang melibatkan alat-alat kebudayaan. Coba lihat pengajaran bahasa Inggeris kita, apakah telah menggunakan kebudayaan lokal untuk memahami dan menguasai bahasa Anglo-saxon ini? Dengan kata lain, pengajaran ilmu pengetahuan apa pun sejatinya tidak menjarakkan peserta didik dengan lingkungannya.

Guru di sini juga berarti dosen yang mengampu pelajaran di perguruan tinggi. Mereka tidak hanya meneriakkan kebajikan dari menara gading, tetapi juga bertungkus-lumus dengan orang ramai untuk menciptakan ruang bagi setiap individu bersuara atas ketimpangan yang menimpa masyarakat kebanyakan. Tentu saja, saluran yang bisa dimanfaatkan adalah organisasi keagamaan dan lembaga swadaya lokal. Selain menjadikan kumpulan ini sebagai wadah silaturahim agar warga tak semakin terasing dengan kehidupan yang disandera oleh kemajuan teknologi, mereka menjadi pengawal masyarakat madani, di mana masyarakat harus memiliki alat berupa organisasi yang tidak terikat dengan kepentingan politik praktis dan pada waktu yang sama menjaga jarak dari pemerintah yang berkuasa.

Mungkin yang paling utama dari peran yang dipanggul oleh guru adalah tugas yang diemban oleh para kyai. Mereka tidak saja mendapatkan legitimasi moral, tetapi juga spiritual. Tidak ada satu pun lembaga atau individu di tanah ini menyangkal peran utama dari kyai. Di tangan mereka, nilai-nilai dan etika tidak saja disampaikan secara lisan, tetapi juga melalui tindakan. Teladan yang diperlihatkan mereka akan dengan mudah mengalir pada orang ramai. Misalnya, kegigihan Gus Muhammad Mushthafa, Kepala SMA 3 Annuqayah, memelopori kepedulian pada sampah dengan mengelola barang buangan dengan kreatif melalui kegiatan-kegiatan daur-ulang, baik sebagai kompos maupun barang bernilai-jual adalah keberhasilan kyai mudah menerjemahkan gagasan besar agama dalam ranah setempat. Di sini, agama tidak saja berbicara tentang pesan Nabi mengenai kaitan erat antara iman dan kebersihan, tetapi mewujudkan pesan itu menjadi tindakan yang menciptakan kemaslahatan bersama.

Tentu saja, rato atau pemerintah mempunyai amanah yang harus ditunaikan. Termasuk di dalamnya para wakil kita yang telah mengumbar janji menjelang pemilihan umum. Mewujudkan kosmopolitanisme, yang kadang dirancukan dengan penampakan fisik, seperti bangunan menjulang tinggi dan mewah, atau kecantikan yang dipermak dengan begitu banyak alat solekan sebagaimana tercermin dari majalah Cosmopolitan, berada di pundak wakil rakyat dan pegawai negeri sipil. Di tangah mereka, kebijakan publik dan pelaksanaan dari program yang diterakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah harus sepenuhnya untuk warga.

Bagaimanapun, kearifan lokal yang menempatkan bapa, guru dan rato, sebagai penyangga kehidupan masyarakat adalah modal sosial yang perlu dirawat. Namun, pada waktu yang sama kita harus menempatkan peran mereka dalam napas baru. Sosok orang tua, ustaz dan aparatur pemerintah, termasuk anggota dewan, masih mempunyai peran yang sesuai untuk zaman baru dengan cara menerjemahkan gagasan tentang moralitas tunggal, terkait dengan kemajuan, tanpa harus meninggalkan kebudayaan lokal. Yang terakhir tentu saja relatif berhasil dipertahankan secara fisik, namun penanaman pesan moral dari kebudayaan itu tidak berhenti pada pemanggungan persembahan, tetapi nyata dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dengan keyakinan di atas, sejatinya kita telah menyambut gagasan mengenai Pembejaran untuk Kehidupan di Abad ke-21 (Gordon Wells dan Guy Claxton, ed.), yang menempatkan keadaan sosial dan kebudayaan lokal sebagai alat untuk penanaman nilai-nilai kebajikan dan kemajuan dalam pendidikan. Karya kumpulan ini merupakan pengembangan dari gagasan besar dari Lev Vigotsky tentang Teori Aktivitas Historis Kultural. Seni Hadrah, misalnya, adalah bukan sekadar klangenan segelintir orang, tetapi mendidik pelaku seni ini tentang bagaimana menjadikan hiburan itu bukan semata-mata merupakan pemanjaan pada hasrat berhibur, tetapi juga penyemaian rasa keindahan agama, kebersamaan, dan tentu saja pengenalan terhadap Nabi Muhammad sebagai teladan yang bisa didekati dengan seluruh kehadiran diri, jiwa dan raga, tidak berjarak. Ketika pengetahuan, kesenian dan keagamaan menyatu dalam gerak dan langkah seluruh unsur masyarakat, impian tentang negeri kosmopolitan adalah bukan khayalan.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Bukit Kachi

Kebenaran dan Metode