Marah Mencerminkan Kelemahan

Kami melewati malam tahun baru di rumah. Sehari sebelumnya, kami masih berada di Pulau Pinang. Perjalanan pulang siang hari dari Pulau Mutiara ke Negeri Jelapang Padi yang menghabiskan waktu dua jam tentu melelahkan. Tak ada kembang api. Tak ada tiupan terompet. Kami hanya meluruskan badan yang penat karena dua hari tiga malam berlibur ke negeri yang dibangun oleh Francis Light, orang jahat dari Inggeris (meskipun sebenarnya sejarah ini telah banyak digugat).

Apa yang tersisa dari perayaan tahun baru? Resolusi yang dilaungkan setengah hati? Atau, kami terperangkap dalam kehendak kerumunan yang merayakan pergantian tahun di keramaian? Pilihan jelas di tangan. Saya sendiri hanya ingin melewati tahun 2012 dengan kelapangan hati dan jiwa. Marah kadang memerangkap saya pada ketidakberdayaan menghadapi kesulawanan peristiwa yang menyergap. Lalu, mengapa resolusi Masehi berbeda dengan Hijrah? Aha, masa itu dalam pengertian Heideggerian berada keterlemparan. Saya tercampak dalam pelbagai ruang yang memerlukan permenungan. Namun, sejatinya tantangan yang paling besar adalah mewujudkan gagasan itu berbuah tindakan.

Gambar di atas adalah cermin dari sebuah keinginan, yang diambil dari tembok kampus UUM. Kita kadang begitu mudah mencomot kutipan kata-kata, namun ternyata kata-kata tak pernah tuntas memberikan daya dobrak, karena ia hadir bersama pelbagai kepentingan yang silang-sengkarut. Lalu, adakah saya harus mencari jawaban dari horoskop, shio, primbon, tafsir mimpi agar hidup ini bisa dipahami? Semua mungkin akan memberikan jawaban yang sama bahwa ketulusan itu mengatasi semua. Tak mudah melawan diri sendiri, namun keberhasilan mangatasi kemarahan jelas memancarkan kearifan.

Comments

Popular Posts