Wong Solo di Alosetar

Kami pernah singgah di sini dalam perjalanan menuju ke Mergong. Untuk kedua kalinya, saya menikmati ayam penyet Wong Solo. Dulu, bersama-sama kawan dari USM, saya mencuil ayam goreng Pak Puspo di Makassar, tak jauh dari Universitas Muhammadiyah. Pada waktu itu, kami tak memilih jus poligami, sebab isteri tak ngeh dengan nama jenis minuman tersebut. Mungkin, kalau minuman yang diramu dari pelbagai buah itu diberi nama es buah gado-gado, Ibu Nabbiyya tak ragu memesannya. Apa boleh buat?

Tiba-tiba, saya merenung adakah Wong Solo akan berkembang seperti KFC, Pizza Hut dan McDonald di negeri jiran? Mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Adakah Pak Puspo berusaha untuk menyaingi gergasi kedai makan asal negeri Paman Sam dan Italia itu. Saya pun tak tahu. Mengapa barang lokal tak digemari? Karena seperti di Indonesia, warga Malaysia juga keranjingan sesuatu yang berbau luar, dari makanan, pakaian dan mobil. Padahal, kampanye mencintai barangan sendiri sering diiklankan di luar ruang. Apa daya, jenama asing terlalu kuat untuk dilawan dengan slogan nasionalisme sekalipun. MyFC dan MarryBrown saja yang merupakan kedai makan cepat saji seperti KFC tak mendapatkan sambutan. Ada ada sebenarnya?

Lalu, mengapa mal-mal besar hanya menyedikan makanan lokal di medan selera (sebutan untuk food court) dan tidak di tempat-tempat utama, seperti di dekat pintu masuk? Malah, di bandara sekalipun, tempat pintu masuk kedua negara ini, jaringan KFC, McDonald, dan Coffee Bean, menjadi penanda bagi kemegahan lapangan terbang. Mari berpikir sederhana tentang hal ini, sesungguhnya keengganan untuk menyukai barangan sendiri karena kita merasa lebih nyaman dengan selera lain, karena kita ingin menjadi orang lain, bukan diri sendiri.

Comments

Popular Posts