Sedekah Pisang


Semalam kami mengunjungi Masjid Muttaqin untuk menunaikan sembahyang Maghrib. Ketika menginjakkan kaki di serambi, saya bersirobok dengan setandan pisang. Untuk kesekian kalinya, saya menemukan pemandangan seperti ini. Seorang dermawan meletakkan buah yang mudah tumbuh di negeri tropis di bibir masjid. Tak hanya di rumah ibadah, saya juga seringkali mengalami hal serupa di warung makan, bahkan di POM Bensin Shell, tak jauh dari masjid tersebut. Setiap hari Jum'at, di depan kasir Shell, pisang emas tersedia untuk dinikmati oleh siapa pun.

Dulu, di Masjid kampus USM, saya juga sering menikmati pisang yang disedekahkan oleh seseorang tanpa nama. Boleh jadi, si dermawan berharap agar tangan kanan memberi, sementara tangan kirinya tidak tahu. Keikhlasan adalah wujud kepedulian pada sesama tanpa dibebani perbedaan latar belakang. Namun, tak semestinya kebaikan itu anonim. Untuk menarik orang ramai berbuat kebaikan, kadang pengumuman perlu dibuat. Seperti tertera di papan masjid Muttaqin, ada beberapa nama yang telah bersedia untuk berinfaq makanan buka puasa pada tahun ini.

Tentu saja, keikhlasan pada gilirannya tidak lagi dengan penyembunyian nama. Pengelolaan sedekah, derma, atau amal tentu menuntut penghitungan dan pertanggungjawaban untuk mengelak dari penyalahgunaan. Di sini, nama penyumbang disebut. Tak hanya itu, mereka yang murah hati kadang diabadikan sebagai nama bangunan. Tidak ada yang salah. Kebaikan harus disebarkan. Mereka yang baik harus dikenang. Namun, seperti Zainuddin MZ bilang, aneh, dengan sedekah 100 rupiah, kita berharap masuk surga.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Lautan Fragmen

Kebenaran dan Metode