Blusukan Ke Pasar

Di hari Jum'at pagi, sambil menunggu Nabbiyya belajar bahasa Inggeris di Vital Years School, kami berbelanja aneka bahan untuk Garangasam, seperti ayam, tomat, dan bawang. Menelusuri lorong seraya melihat begitu banyak orang dan barang jualan, saya yakin bahwa pengagihan kue ekonomi pasar tradisional itu jauh lebih merata dibandingkan dengan pasaraya.

Kami sempat bingung mencari daun pisang untuk mengukus ayam, namun seorang ibu penjual bawang putih memberitahu kami bahwa penjual daun di ujung sana tak jauh dari penjaja surat kabar. Alhamdulilah, akhirnya kami mendapatkan tiga ikat daun dengan harga 'berpatutan'.

Selain itu, kami tak lupa juga membeli beberapa potong tempe. Kami sering berlauk mendoan, tempe yang dibalut tepung, atau memakannya begitu saja dengan lombok kecil. Sensasi pedas cabe dan secawan teh panas menghangatkan sore yang belakangan ini acapkali diserbu oleh hujan. Kami pun akan kembali lagi ke Pasar Jitra ini untuk bertukar sapa dengan penjual, yang tak akan terjadi di Pasaraya.

Selain bumbu di atas, santan adalah penyedap Garangasam. Kami membelinya dari kedai yang telah menyediakan perasan parutan kelapa ini. Seorang ibu berjilbab menyahuti Bunda, "Dari Sabah, ya?" Pertanyaan ini sering saya juga alami. Betapa pun kami mencoba untuk bercakap dengan loghat Kedah, warga di sini sering menemukan keanehan pada dialek kami, sehingga mereka sering menyangka asal-muasal kami dari negeri 'Borneo'.

Ya, percakapan seperti inilah yang membuat kami menikmati 'blusukan' ke pasar tradisional. Mungkin, cara berbelanja seperti ini dianggap membuang-buang waktu, namun saya justeru menemukan hubungan manusia yang bermutu. Mengapa kita perlu bergegas? Toh, akhirnya kita berdiam di rumah bersama alat-alat elektronik yang makin membuat kita menjauh dari rasa kehidupan manusiawi.


Comments

Popular Posts