Monday, April 01, 2013

Sunyi itu Nyeri

Eksistensialisme dikenal sebagai jalan yang merayakan kebebasan pribadi. Tak ayal, ia sepi. Adakah betul sunyi itu nyeri? Muhammad Iqbal, filsuf eksistensialis, pernah bertutur pada sang anak, Javid, bahwa ia merasa sepi dan berharap anaknya tak mengikuti jejak sang ayah yang dirundung kesunyian.

Gambar buku ini telah melukiskan dengan sempurna orang yang menatap keluasan, namun ia menikmati kesendirian dan membelakangkan orang ramai. Apakah kita mau menjalani hidup seperti orang ini? Mungkin, betapa pun kita hidup bersama, kadang kala kita dibekap oleh keseorangan. Ada ruang yang tak bisa ditundukkan oleh siapa pun, bahkan tentara khusus sekalipun.

Ketika eksistensialis ingin meretas penghalang kehidupan, absurditas, ia sebenarnya sedang bermain-main dengan kecelaruan yang diciptakan oleh dirinya sendiri. Bukakah rasa cemas (angst) itu diperoleh dari pengalaman hidupnya yang dibentuk oleh kepercayaan masyarakat yang ia membesar di dalamnya? Bukankah ia bebas karena ada aturan yang ditolaknya? Bukankah ia bosan karena secara sadar atau tidak ia terlempar dalam rutinias kehidupan khalayak? Diam-diam, betapa pun orang lain itu ancaman dan neraka, ia memerlukannya penanda itu untuk menempel kode pada jidatnya. 

2 comments:

M. Faizi said...

dalam sekali renungan Anda, Pak Ahmad

Ahmad Sahidah said...

Mas Kyai, renungan ini membuat pembaca menggigil. Anda lah yang bisa mencairkannya dengan bahasa puisi.

Semoga kita masih bisa berjumpa.