Merenung di Kedai Cukur

Karena di ujung Minggu, saya telah meramalkan bahwa kedai cukur tak jauh dari rumah ini akan menangguk untung karena banyak pelanggaran yang ingin memangkas rambut. Aha! Ternyata banyak anak-anak dan para remaja yang telah menunggu di dalam atau pun di luar kedai. Di sela menunggu, saya membaca buku The Art of Thinking Clearly dan koran Sinar Harian.

Di waktu itu, saya juga melihat dua anak kembar yang memakai jersi klub sepak bola Menchester City. Betapa kecilnya dunia ini. Sebuah perkumpulan olahraga mendapatkan dukungan dari dua anak yang tinggal jauh dari negeri asalnya, Inggeris. Menariknya, klub ini dimiliki oleh jutawan Arab, Sheikh al-Maktoum. Batas-batas luruh. Sekat-sekat tak lagi memikat.

Karena batas kadang tumpang-tindih, kita juga sering menemukan identitas kita yang bertindan-tindih. Apabila dukungan kita pada sebuah sepak bola disimak, adakah ia mencerminkan batin kita? Misalnya, apakah sokongan saya pada Selecao menunjukkan sisi dukungan emosional karena Brasil adalah negara miskin yang berjuang untuk keluar kemelut sebagaimana negara saya? Ini salah satu variabel yang masih menyimpan variabel-variabel lain. Apa pun, saya menikmati bangun pada dini hari untuk menikmati permainan Tim Samba di Piala Konfederasi. Terus terang, kerjasama Oscar dan Jo dalam membobol jala gawang Jepang begitu apik dan cantik. Anda bagaimana?

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Lautan Fragmen

Kebenaran dan Metode