Ramadhan di Bukit Kachi [9]

Pada pagi hari saya merayau-rayau di sekitar kampus. Selain mengantar kertas jawaban ujian mata kuliah Filsafat dan Etika ke rektorat saya mampir ke perpustakaan. Hujan rintik. Saya berjalan menyusuri lorong beratap seng. Dengan memilih menggunakan kaki, saya menerapkan apa yang selalu dikatakan di kelas bahwa adalah zalim jika kita tak memanfaatkan anugerah Tuhan berupa dua penyangga tubuh. Apalagi, seeloknya setiap orang berjalan 8000 langkah setiap hari agar sehat dan cergas.

Pada sore hari, kami pergi ke pasar Ramadan untuk menikmati suasana dan membeli kue untuk berbuka, seperti klepon, karipap, dan lupis. Kami memanjakan kaki dan mata melihat pelbagai aneka makanan dan kudapan. Sebelumnya, ibu Biyya telah menelepon Kak Sah, pemilik warung masakan Kelantan, sekaligus memesan meja agar nanti kami bisa berbuka di sana. Begitu banyak makanan, betapa selera seakan ingin melahap semua.

Pada malam harinya, setelah tarawih saya membeli obat Hurix's sirup di toko asrama. Tenggorokan panas akibat batuk yang datang menderu. Tidur terganggu di tengah malam sehingga saya terpaksa turun ke lantai kedua agar tak mengganggu tidur anak-anak. Untuk mengisi waktu, saya mengikuti pengajian tasawuf kiai Kuswaidi melalui Facebook selain terpaksa membuka bungkus plastik buku yang disiapkan untuk teman perjalanan mudik nanti, Jonathan Taplin, Move Fast and Break Things (2017) sebagai teman menunggu sahur. Ternyata, alur hidup tak selalu direncanakan, meskipun tidak kemudian kita mengalir begitu saja, sebab ada hal rutin yang sangat berat dirawat, asupan badan dan batin. 

Comments

Popular Posts