Ramadhan di Bukit Kachi [8]

Di hari libur, saya mengajak Zumi ke kampus. Ia senang alang-kepalang ketika melihat begitu banyak mainan mobil-mobilannya di kamar kerja. Saya sengaja menyimpannya sebab di rumah barang yang sama juga ada, sehingga mainannya bisa diselamatkan. Maklum, ada banyak suku cadang atau badan mobil retak, rusak, dan lepas.

Tak perlu waktu lama, ruangan berantakan karena mainan itu bertebaran di mana-mana, seperti pojok, bawah meja dan karpet. Lalu, saya memutar serial Upin-Upin agar ia bisa menonton dan duduk tenang, sementara saya bisa menyimpan kembali mainannya dengan harapan nanti adik Biyya ini belajar menempatkan barang di tempat yang telah disediakan. Mobil pemadam kebakaran yang tampak dalam gambar adalah salah satu korban imajinasi, yakni mobil bisa terbang dan meluncurkan deras ke lantai. Ban depan tanggal sehari setelah dibeli. Saya memindahkan ban belakang ke depan. Di mana saya bisa mendapatkan roda pengganti?

Kue oat yang disiapkan ibunya dihabiskan di sela asyik dengan mainannya. Setelah lelah dan bosan, ia pun mengajak pulang seraya menyebut mama berapa kali. Tentu, ia ingin minum susu dan tak bisa lama berpisah dengan sang ibu. Tak seperti kakaknya yang menyesapnya dengan perlahan, si adik hanya perlu beberapa detik untuk menandaskan isi botol. Dengan mengajaknya ke luar dari rumah, saya mau membiasakannya melihat dunia luar dan pada waktu lain kami ajak ke lapangan sepak bola agar yang bersangkutan tak rentan mengalami miopia, rabun jauh, kelak karena selalu berada dalam ruangan. Oh ya, dulu saya pernah mengajaknya ke taman rusa kampus agar memberikan kesempatan pada ibunya tidur siang setelah penat mengikuti gerakannya sejak pagi. 

Comments

Popular Posts