Sebelum magrib, kami bereempat bermain bulutangkis di halaman. Sebelumnya tiga sekawan ini menonton Pak Haris yang sedang memancing di selokan.
Pas selawat dikumandangkan dari masjid Baitissalam, kami berhenti dan mandi lalu pergi ke musala.
Jemaah itu ibadah dan tarbiyah (pendidikan). Hal terakhir ini mengajar anak-anak untuk berhenti sejenak dari permainan. Mereka belajar diam untuk memasuki fase kontemplasi. Setidaknya, mereka telah memulai sejak dini.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Hari ke-2
Dalam sebuah grup Whatsapp, FAMAJA, saya bertanya, apa resolusi 2026 Anda? Salah seroang anggota menukas, "Menurut saya tak penting. Me...
-
Ahmad Sahidah lahir di Sumenep pada 5 April 1973. Ia tumbuh besar di kampung yang masih belum ada aliran listrik dan suka bermain di bawah t...
-
Buku terjemahan saya berjudul Truth and Method yang diterbitkan Pustaka Pelajar dibuat resensinya di http://www.mediaindo.co.id/resensi/deta...
-
Ke negeri Temasek, kami menikmati nasi padang. Kala itu, tidak ada poster produk Minang asli. Pertama saya mengudap menu negeri Pagaruyung ...

No comments:
Post a Comment