Kehadiraran gelombang kedua KKN Universitas
Nurul Jadid di Malaysia mengukuhkan pengabdian mahasiswa di negara tetangga. Kerja
sama UNUJA dengan Pondok An-Nahdhoh merupakan komitmen untuk memberikan
pengalaman pada mahasiswa dari kampus yang terletak di Paiton ini berbakti
secara nyata dan meraup pengalaman di dunia internasional.
Selama berada di sini, mereka akan membimbing
banyak santri dan siswa yang merupakan anak-anak dari pekerja migran asal
Indonesia. Dengan belajar di lembaga pesantren, generasi muda itu akan menggali
akarnya sendiri dan belajar mengenal teman-temannya yang berasal dari Malaysia
dan Thailand. Selain mendapatkan pendidikan formal setara Sekolah Menengah
Pertama, mereka juga mendalami karakter tradisional, keterampilan hidup dalam kepramukaan,
dan cita rasa berkesenian, seperti selawatan dan hadrah.
Latar belakang para mahasiswa turut mendukung
kebutuhan sekolah pondok ini. Diana Putri Prahasti (Pendidikan Matematika),
Nabila Firdausyiah (Pendididikan Bahasa Inggris), Hamadah Sahrullah (Teknik
Elektro) dan Muhammad Shofa Uzzad Zuhri (Hukum Keluarga) akan menjalani
hari-harinya dengan membimbing para santri dalam kegiatan intra dan ekstra
sekolah serta mencatat pengalaman ini sebagai refleksi yang akan dibukukan
sehingga jejak itu bisa menjadi pelajaran bagi gelombang berikutnya. Lebih
jauh, buku ini bermanfaat bagi masyarakat luas.
Setelah 3 minggu, para mahasiswa berhasil
beradaptasi karena mereka menghadapi santri yang majemuk. Dalam kesaksiannya,
Nabila Firdausyiah menegaskan bahwa pertama kali ia mengalami culture shock
sebab kakak angkatannya menceritakan kesulitan untuk mengendalikan kelas. Tetapi
sejalan dengan perjalanan pengabdian, perempuan yang fasih berbahasa Inggris
ini melihat siswa tak lebih dari remaja yang sedang mencari jati diri.
Tak hanya itu, Nabila menambahkan bahwa mereka
adalah anak-anak yang polos dan jujur serta bertanggungjawab. Mereka menerima
kehadiran mahasiswa dengan santun dan kehangatan. Bagaimanapun, anak-anak itu
tumbuh di lingkungan yang berbeda dengan tanah kelahiran orang tuanya. Ada banyak
sumber nilai yang mereka terima dalam perkembangannya sebagai remaja.
Tentu, kesungguhan UNUJA membuka jalan pada calon lulusannya ditunjukkan dengan kehadiran rektor, KH Abdul Hamid Wahid, M.Ag dalam tausiyah pada cara silaturahmi dan monitoring MBKM Santri Mengabdi Internasional yang berlangsung di aula pondok, 4 September 2023. Mahasiswa tidak lagi berada di zona nyaman dengan mengabdi di daerah yang telah dikenal, tetapi meneroka pengalaman asing yang akan meluaskan cakrawala global kaum terpelajar (Anda juga bisa membacanya di sini: KKN UNUJA di Malaysia.
No comments:
Post a Comment