Sunday, June 16, 2024

Warung, Buku, dan Sikap

Mari kita melihat filsafat sebagai cerita! Eksistensialisme, misalnya, membayangkan hiruk-pikuk para filsuf di sebuah kafe Paris. Mereka menikmati musik jazz, menghisap rokok, dan berdebat sengit tentang kebebasan politik dan artistik.

Pertanyaannya, adakah kedai kopi Starbucks, Coffee Bean, dan Excelso menampilkan pemandangan seperti ini? Tidak. Maka, boikot itu adalah filsafat.

Kecuali kita memindahkan perbincangan tersebut ke gerai waralaba asal Amrik tersebut. Tapi, bila tak riuh dengan perlawanan, mungkin kafe Blandongan atau Basabasi lebih menantang menguji ide sambil menyesap kopi. Namun, tak mesti bising soal ilmu hikmah, tapi juga bahasa dan sastra.

 

No comments:

Malam Minggu

Kami makan malam di warung Kitoz, tak jauh dari rumah. Sambil berjalan kaki, kami ngobrol ke sana ke mari diiringi sinar bulan. Dalam hitung...