Friday, December 13, 2024

Bukit Kachi

Kami pernah tinggal di sini. Ketika libur, asrama kampus sunyi. Sekali waktu, ada makhluk gaib lewat, saya menerimanya sebagai tamu. Hanya, ia tak masuk ke rumah, sebab pintu terkunci. 

Dalam masa yang lain, saya berjalan sendirian ke masjid untuk berjemaah subuh. Di pojok lapangan bola, semerbak harum tetiba menyeruak dari sebatang pohon. Kaki terpasung. Jantung berdebar. Setelah menarik napas, otak kiri menyela, itu fenomena alam. 

Justru, saya merasa kabut putih di pagi hari adalah keindahan tak terpermanai. Hujan yang turun menghadiirkan orkestra sebab bukit-bukit menyuguhkan pelbagai suara alam. Burung walet bergembira, terbang ke sana kemari. Aha! Zumi bilang gerimis itu "baby raining".

Tentu, berangkat dua jam sebelum subuh ke Kelantan untuk mengajar di Kota Bharu adalah pengalaman yang sangat menyeronokkan. Tidak ada hantu, kecuali kegelapan. Lalu, saya bilang pada istri bahwa Bukit Kachi telah dipagari dengan selaksa doa agar senantiasa terang-benderang.

 

No comments:

Malam Minggu

Kami makan malam di warung Kitoz, tak jauh dari rumah. Sambil berjalan kaki, kami ngobrol ke sana ke mari diiringi sinar bulan. Dalam hitung...