Friday, January 30, 2026

Hari Ke-30 (Kehangatan)

Judul di atas bisa dipahami secara harfiah dan kiasan. Keduanya sama-sama mendatangkan kenyamanan. Kala dingin, air yang dipanas dan dicampur dengan air dari bawah tanah menjadikan mandi menyenangkan. Ketika bertemu seseorang yang membawakan dirinya riang dan perhatian, kita mendapatkan kehangatan, baik dari sentuhan fisik, perhatian, atau ucapan.

Salah seorang teman yang hangat itu adalah Sulthon Firdaus. Ia adalah dosen bahasa Arab yang meraih gelar doktornya di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim. Setiap kali bertemu, wajahnya bersinar terang dan berkata-kata dengan penuh keriangan. Teman lain adalah Hilmy Muhammad, yang kini menjadi angfota Dewan Perwakilan Daerah dari Yogyakarta. Sapaan dreh (bindharah, santri dalam bahasa Madura) diucapkan dengan ketulusan. Kawan dari jiran yang menghadirkan perasaan itu adalah Zainal Abidin Sanusi dan Mohamed Imram Mohamed Taib.

Sebagaimana resolusi 2026, saya ingin merawat keseharian dengan lebih sungguh-sungguh. Meskipun membaca Martin Buber, I and Thou (1937) saya melihatnya dari kegiatan yang biasa dijalani sehari-hari, seperti menyediakan air panas untuk Zumi agar dapat mandi pagi dengan penuh semangat dan merasakan kedekatan dengan tetangga di banyak kegiatan, seperti Sarwaan, Yasinan, dan gotong royong. Tidak hanya itu, Di dalam keluarga ia bisa ditunjukkan kala saya mencuci piring di dapur untuk mengajari Biyya tentang kesetaraan yang menjadi salah satu pencetus kehangatan.

Dulu, saya juga merasakan kehadiran dosen Yahudi di UIN Sunan Kalijaga, Natalie Polzer. Pengajar asal Canada ini mengajar Kajian Yahudi dan Kristen dengan penuh semangat dan khidmat. Sebagai penganut agama yang salehah, ia menjelaskan tata cara ritual agama serumpun ini. Namun, perbedaan itu tidak menghalangi untuk membaca teks agama secara kritis dan relasi antarindividu berpijak pada humanisme, kami sama-sama manusia.

Dari pengalaman, di sini ada relasi I-It dan I Thou seperti diandaikan oleh Buber. Hubungan manusia yang bertumpu pada I-It di mana liyan dipandang sebagai itu (It, benda), akan berhenti pada sekadar pemanfaatan dan pengalaman sebagaimana di era modern yang serba teknokratis dan mekanis, bukan lebih jauh pada I-Thou. Idealnya, satu sama lain saling menyangga untuk menemukan autentisitas, bukan kepalsuan yang acapkali menyandera manusia pada sifat pamer, angkuh, dan nirempati.

Jadi, kebebasan tidak dipahami sebagai pemenuhan kehendak seseorang. Sebagaimana ditegaskan oleh Buber bahwa The free man is he who wills without arbitrary self-will. He believes in reality, that is, he believes in the real solidarity of the real twofold entity I and Thou (hlm. 59). Kebebasan bukanlah untuk melakukan apa pun yang kita inginkan secara egois dan semena-mena. Justru ia adalah kehendak yang terarah pada hubungan, bukan pada pemuasan diri sendiri secara sempit. Pendek kata, orang merdeka mengarahkan kehendaknya dalam kerangka tanggung jawab dan pengakuan terhadap keberadaan orang lain/dunia di luar dirinya.

Wujud dari gagasan di atas adalah keterlibatan kita dengan banyak aktivitas organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Namun, hubungan ketetanggaan melalui kegiataan sukarela seperti gotong royong juga layak mendapatkan perhatian. Sesudah menggelar Yasinan dan Tahlilan di acara Sarwaan, Pak RT 23 mengusulkan pengembangan kelompok masyarakat yang akan mengelola sampah organik dan nonorganik. Bermula dari kumpulan kecil, yakni 9 rumah tangga, ide untuk mengurangi sampah buangan ini bisa realisasikan secara lebih luas dan berdampak

Di sini, kehangatan lahir dari kesetaraan dan kesalingmengertian untuk memupuk kebajikan. Tentu, satu sama lain memiliki cara sendiri dalam membawakan diri. Akhirnya, pertemuan rutin akan menyuburkan hubungan Aku-Kamu yang lebih bermakna seraya menyeimbangkan kebutuhan rohani dan jasmani. Setidaknya, dengan ritual bersama ini, setiap individu berhenti sejenak dari telepon genggam dan satu sama lain saling bercakap dengan hangat setelah bermunajat melalui doa dan bacaan. Itulah mengapa saya tidak membawa Samsung ke tempat pengajian ini.

 

 

 

No comments:

Hari Ke-30 (Kehangatan)

Judul di atas bisa dipahami secara harfiah dan kiasan. Keduanya sama-sama mendatangkan kenyamanan. Kala dingin, air yang dipanas dan dicampu...