Wednesday, March 03, 2021

Mengaji dan Mengkaji


 Dalam Madilog, Tan Malaka menyarangkan untuk membaca apa saja, termasuk pikiran-pikiran musuh. Tentu, kita sedang mengatur posisi bahwa Che Guevara dan Jeal Paul Sartre yang ditempel di dinding bambu itu adalah kawan atau lawan. 

Tan jelas berada di sudut ring materialisme dan orang lain idealisme. Untuk itu, kita juga menyusun strategi sejatinya dalam ideologi kita berada di mana? Pertanyan konyol tatkala hari ini ia telah mampus

Lalu, dalam obrolan kami sedang merancang pengajian kitab Al-Kasysyaf Al-Zamakhsyari. Tentu mengaji tafsir dari sarjana yang bukan dari kalangan sendiri akan menimbulkan bayak persoalan. Tetapi, lagi-lagi bila kita hendak menyergah, maka kita harus menyiapkan hujah. Semgoa berkah. 

Monday, February 22, 2021

Warkop dan Pengetahuan

 

Semalam, saya mendapat undangan Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Universitas Nurul Jadid untuk berbagi pengalaman. Temanya adalah "Warung Kopi dan Tradisi Keilmuan".

Dalam Terms of Reference (TOR), panitia menyodorkan kisah Kafe de Flore tempat sarjana Prancis memikirkan nasib negerinya pascaperang. Depresi meruyak. Salah satu dari pemikir itu adalah Jean Paul Sartre. Aha, kebetulan saya pernah membeli karyanya di Kinokuniya Kuala Lumpur berjudul Ada dan Ketiadaan.

My I is no more certain than the I of other people (Being and Nothingness,1992, p. xiv). Keakuan diri dan liyan itu tidak bisa dibuktikan, karena ia merupakan keniscayaan faktual yang kita bisa ragukan secara abstrak.

Lalu, apa masalah yang perlu dipikirkan mahasiswa di warung kopi nanti untuk mengurai tekanan pada warga Paiton? Mengapa pemilik tempat menempelkan poster Che Guevara di dinding bambu itu? Saya sudah tua. Biarlah mereka anak muda yang mengisahkan dunia hari ini.

Mungkin, mereka juga perlu membaca The Age of Reason. Novel ini pernah dibedah di Lembaga Indonesia Prancis Sagan Yogyakarta. Saya menjadi moderator untuk dua panelis, yakni Romo Haryatmoko dan Landung Simatupang. Kata Romo, kucing dalam buku fiksi ini bukan sekadar hewan, tetapi juga tanda dari ide besar suami dari Simone de Beauvoir tentang kebebasan. Tokoh utamanya, Matthieu, adalah kepanjangan dari buah pikiran filsafatnya.
 

Monday, February 08, 2021

Perjalanan

 

Di masa pandemi, kami tidak bepergian. Malah, mudik pun tak dilakukan. Padahal, tahun kemarin, seharusnya kami pulang ke kampung halaman, Parebaan Sumenep.

Pengalaman berjalan bersama selalu menyeronokkan, seperti tampak dalam gambar sebelah. Dalam sebuah perjalanan ke Kelantan, kami mampir ke gerai waralaba makanan cepat saji. 

Zumi selalu memilih makanan yang memberikannya mainan. Biyya cukup senang bila ia bisa berhenti sejenak untuk mengurangi kebosnana dalam mobil. Setiap orang akan menikmati hidupnya. Ini pun bisa dilakukan secara bersama-sama.  

Saturday, January 30, 2021

Menemani Biyya Belajar

Saya menemani Biyya untuk mengikuti kelas percobaan Aspiration International School, Kuala Lumpur. Sebelumnya, kami telah berjanji untuk berdiskusi dengan kepala sekolah dan para gurunya, seperti Seni, Bahasa Inggris, dan Biologi. Meskipun hanya berlangsung singkat, namun pihak manajemen dengan senang hati menerima pertanyaan melalui surat elektronik atau Whatsapp. 

Tentu, dengan penggunaan telepon genggam, penyampaian informasi melalui berbagi layar di Zoom tidak berjalan lancar. Untuk itu, saya berjanji pada Mr Daniel untuk menggunakan tablet atau notebook pada kegiatan pembelajaran yang akan datang. Tentu, Biyya tidak hanya belajar, tetapi juga mempunyai teman-teman lintas latar belakang. Selain itu, ia bisa melihat dunia, Paiton dan KL.

Apa pun, Biyya sendirilah yang akan memutuskan apakah akan mengambil kelas ini atau tidak. Sebagai orang tua, kami telah memberikan jalan pada kakak Zumi ini untuk menemukan diri dan meraih keterampilan yang disukai. Selama ini, saya sering membelikannya pensil dan buku gambar karena ia sangat suka melukis anatomi. 

Saturday, January 02, 2021

Malam Tahun Baru


Acara bebakaran adalah usulan Nabbiyya. Tak lama setelah ujian, murid SD Namira ini tampak tertekan. Selain kami tidak bisa kemana-mana, Biyya juga harus menunggu buku bacaan yang belum datang. 

Sore hari, menjelang malam Tahun Baru, kakak Zumi ini telah membersihkan halaman belakang tempat kami akan membakar daging dan ayam. Sebelumnya, saya telah membeli marsmallow untuk bahan buat smore. Alamak, anak-anak suka apa yang kami tidak alami. 

Foto ini diambil setelah kami menyiapkan jagung rebus dan kentang goreng, kedua anak ini menyebut french fries. Bagi saya, rasanya sama saja. Apapun, kami bisa menjadikan malam menjelang perganting tahun menyenangkan tanpa harus ke luar rumah. 

Thursday, December 17, 2020

Alpokat

Saya dan Zumi membeli sekilo buah favorit ibunya pada Pak Rahman. Ini adalah warung ketiga yang menjual buah-buahan. Satu toko yang bersebelahan dengan kedai cukur tutup, sementara yang berada di depan penjuang sayur masih bertahan.
Di sepanjang jalan Tanjung ini, ada banyak toko, seperti Viki, tempat saya membeli bahan-bahan kue, yang menjadi cermin dari kegiatan sehari-hari dan kebutuhan warga, koperasi BMT Tanjung tempat banyak orang untuk bekerja sama.
Tentu, secara umum, para ahli ekonomi yang berada di kampus tidak hanya melihat ini soal transaksi, tetapi juga lebih jauh soal mazhab. Adakah prilaku warga menjadi bayang-bayang dari sistem yang lebih besar atau punya pandangan sendiri untuk mengatur produksi dan konsumsi.

Nah, Biyya minta untuk dibelikan susu cair coklat agar bisa menikmatinya. Buah ini mengingatkan saya pada teman baik di UUM, Encik Massudi Mahmuddin, yang memberikan setas alpokat yang diambil dari pohon di belakang rumah.

Saturday, October 31, 2020

Laut Bercerita

 

 

Biyya mengambil novel Laut Bercerita dari rak buku. Kami tak memintanya untuk membaca koleksi "dewasa" karena murid SD Namira ini telah memilih karya kesukaan sendiri, seperti Dork Diaries, Harry Potter, dan Spy School.  Mungkin karena bosan menunggu buku baru pesanan belum datang, ia menyusuri rak untuk membaca apa yang menarik perhatiannya. 

Keinginan ini makin membuncah setelah diberitahu bahwa tulisan Leila  S Chudori tersebut bercerita tentang gerakan mahasiswa di era Soeharto. Tentu, ada beberapa ungkapan yang ia belum bisa pahami sebagai anak-anak, tetapi ia sendiri punya kehendak yang kuat untuk memahami isu demokrasi, pemerintahan, dan kekuasaan. 

Menariknya, anak ini pernah digendong oleh sang penulis, ketika Leila berkunjung ke Pulau Pinang untuk mengisi acara kesusasteraan Georgetown Literary Festival. Di sela program, penulis Pulang  tersebut juga membahas karyanya di Universitas Sains Malaysia bersama dosen dan mahasiswa Fakultas Ilmu Humaniora. 

Ambil Rapor

Setiap orang tua tidak hanya mengambil buku nilai anak kelas 5, tetapi juga mendengar mereka mempresentasikan proyek di depan kelas. Guru ti...