Buku yang Mengubah Manusia

Minggu, 7 Mei 2006

Oleh Ahmad Sahidah*)

Di tengah hiruk-pikuk media elektronik dalam kehidupan manusia, terdapat kekhawatiran bahwa buku akan tersingkir. Tetapi, prediksi ini juga tidak menjadi kenyataan. Namun demikian, buku tetap masih berada di pinggir dalam arus penyebaran informasi. Bahkan, di tengah kesulitan ekonomi, penerbitan di tanah air masih marak.

Adakah kengototan pekerja buku ini semata-mata didasari oleh motif ekonomi? Bukankah tidak jarang buku lahir dari sebuah keinginan ‘politik’? Masihkan tersisa idealisme untuk mengubah wajah kemanusiaan dengan pengetahuan? Tentu saja, jawabannya beragam, atau mungkin boleh jadi motifnya memang tidak tunggal.

Terlepas dari pendorong lahirnya buku di masyarakat, ada sesuatu yang lain yang juga perlu mendapat perhatian. Ternyata dalam sejarahnya, buku telah mengubah manusia dan dengan sendirinya melahirkan peradaban yang menyangga kebudayaan adiluhung. Sejarah menunjukkan kegemilangan penerjemahan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab pada era Khalifah al-Makmun telah menyulap tanah tandus Timur Tengah menjadi oase pemikiran, melanjutkan kembali gairah pengetahuan yang pernah muncul di Yunani.

Individu yang Mencengangkan

Ada banyak cerita tentang buku yang mengubah hidup seseorang. Nietzsche menemukan pencerahan dari buku Schopenhauer di pasar loak. Bahkan, dengan nada provokatif, Lévi Strauss merasa mendapatkan wahyu setelah membaca buku Roman Jakobson. Dua contoh ini adalah lebih dari cukup bagaimana teks telah mempengaruhi seseorang menjadi orang lain (alter-ego) dan melakukan sesuatu dari apa yang dibacanya.


Mungkin, kita juga perlu menengok kisah-kisah tentang buku yang mengubah manusia. Buku A Passion for Books (1999) adalah salah satu contoh yang merekam kegandrungan orang akan buku dan akhirnya mengubah pembacanya. Nina King mencatat beberapa penulis yang mengungkapkan buku telah merubah hidupnya, di antaranya Susan Sontag dengan Book of Marvels Richard Halliburton, Frank McCourth dengan Seven Storey Mountain Thomas Merton dan dia sendiri, meskipun memalukan katanya, buku yang mengubah dirinya adalah The Boobsey Twins in the Country.


Di dalam buku lain, A gentle Madness (1999), Nicholas A Basbanes mengungkapkan tentang kegilaan orang pada buku - bibliomania. Di sini, sang penulis melacak dunia 2500 tahun lalu di Alexandria Mesir, cerita-cerita heroik para penggila buku yang mencuri untuk menambah koleksi (biblioklepto) atau membeli empat rumah untuk menampung buku koleksinya. Di Indonesia, cerita penggila buku yang mencuri adalah Chairil Anwar dan Asrul Sani, meskipun sial, karena buku yang diincar, Zarathusranya Nietzsche tertukar dengan Kitab Injil. Sayang, sang penulis belum mengenal Pram, sehingga kegigihan sastrawan besar Indonesia tidak terekam dalam buku ini, yang banyak dipuji karena keluasan informasinya.

Atmosfir kegairahan mengumpulkan buku sebenarnya juga ditemukan di kos-kos mahasiswa Jogjakarta, suasana yang penulis rasakan ketika menyelesaikan kuliah. Tidak dapat disangkal, bahwa buku adalah bagian aksesori kamar mereka, bahkan ada mahasiswa yang membeli buku tapi belum sempat (males?) membacanya. Tentu saja, apapun motivasinya, ia tetap akan berdampak pada dunia perbukuan. Siapa tahu dari koleksi yang terbengkalai itu akhirnya dibaca dan membuka kemungkinan mengubah hidupnya.

Sebuah Harapan

Kita juga berharap bahwa para pencinta buku di negeri ini akan mengumpulkan pengalamannya yang akan mengilhami generasi selanjutnya untuk menjadikan buku sebagai bagian dari penentu eksistensinya, bukan sekedar alat pelengkap sekolah atau kampus. Muhidin M Dahlan dalam Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta telah memulai merekam sosok dirinya yang menganggap buku seperti nyawa yang kedua. Sebuah catatan yang manis untuk dijadikan cermin mengapresiasi sebuah karya.

Di sini, sebenarnya banyak cerita tentang tokoh nasional yang sangat menghargai buku sebagai barang yang tak bisa ditinggalkan dalam kesehariannya. Bahkan dalam pembuangannya, Soekarno dan Hatta membawa banyak buku untuk dijadikan teman setianya. Pilihan Presiden pertama RI akan buku-buku Islam telah mengantarkan dirinya untuk menggeluti isu keislaman dan melakukan polemik dengan A. Hassan. Sedang wakilnya melahirkan buku Alam Pikiran Yunani, yang merintis jalan bagi kajian filsafat di Indonesia. Cerita heroik lain adalah Tan Malaka, sang pejuang yang justeru bergelut dengan buku di tengah pelariannya dan menghasilkan karya yang cemerlang Markisme, Dialektika dan Logika (Madilog).

Atau cerita lain dari ketakutan pemerintah Orba terhadap buku-buku Pram, Gie, Tan Malaka dan yang lain, sebagai contoh betapa dahsyatnya benda yang bernama buku ini dikhawatirkan akan mengguncangkan tatanan yang telah mapan. Meskipun, akhirnya pelarangan ini justeru makin memopulerkan dan menarik banyak orang untuk melahapnya. Padahal, dilihat secara fisik, buku tak lebih dari tumpukan kertas yang dibubuhi huruf-huruf untuk merangkai kalimat utuh sebagai anak rohani, mengutip Pram, dari penulisnya.

Masihkah kita berharap buku akan mengubah manusia dan eksistensinya? Saya sendiri berharap besar. Sayangnya, saya belum menemukan buku yang bisa membuka pikiran akan sebuah pilihan dan menjadikannya pijakan untuk merintis jalan memahami ‘dunia’ dan ‘melek’ untuk memetakan realitas. []



Ahmad Sahidah, Mahasiswa Ph.D Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

Comments

Popular Posts