Syukur: Sebuah Kata yang Hilang

Kemarin, saya ditelpon oleh Ibu Tineke bahwa beasiswa saya akan ditransfer hari Kamis atau Jum'at. Tiba-tiba, saya merasa 'gembira' yang berbeda. Ada kekuatan untuk membuat saya 'merancang' banyak hal. Terbayang disertasi akan selesai dalam waktu singkat. Lebih dari itu, saya dalam keadaan sehat. Mungkin, semua ini adalah peristiwa biasa, tapi menjadi luar biasa ketika kita mau mensyukuri sebagai karunia, sebab apa yang didapat ini akan bisa hilang.

Beberapa hari yang lalu, kepala saya diserang nyeri. Karena sering, saya menganggapnya biasa. Jika sakit tak tertahankan, saya minum panadol. Di Indonesia, biasanya Paramex. Obat ini ampuh untuk menghilangkan rasa nyut-nyutan di batok kepala. Katanya, parasetamol yang terkandung di dalamnya adalah painkiller sejati. Tapi, waktu itu saya tidak membeli obat dan tidur sebagai jalan keluar. Meskipun, ketika bangun pagi rasa berat di kepala masih tersisa, tapi tidak mengganggu. Teman karib saya, Yusof Othman berbaik hati untuk memijit seluruh tubuh dengan alat 'pemijit tangan'. Akhir-akhir, kami berdua banyak melakukan kegiatan bersama, makan, main bola, basket dan berdiskusi tentang ekonomi. Kebetulan, dia adalah mahasiswa PhD bidang Ekonomi, khususnya perdagangan internasional.

Sekarang, niat untuk segera merampungkan disertasi diawali dengan meminjam buku al-Burhan fi Ulum al-Qur'an oleh Az Zarkasyi, The Event of the Qur'an oleh Kenneth Cragg, The Sublime and Orientalism oleh Mohammad Khalifa dan Hermeneutika al-Qur'an: Mazhab Yogya oleh Sahiron Syamsuddin (editor). Malah, saya mengirim surat elektronik ke Mas Sahiron untuk berbagi pengetahuan dan bahan.

Jika hidup telah terang benderang, maka sekarang komitmen itu tidak hanya di kepala tetapi juga di tangan, kaki, mulut dan seluruh jiwa.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen