Jika Film tidak mudah lagi dipahami

Film (Malaysia:filem) bisa dilihat sebagai aktivitas budaya dan komunikasi. Untuk memahami dua yang terakhir agar mengantarkan saya pada pemahaman yang baik tentang film serta merta saya harus memahami kebudayan dan gaya komunikasi yang dijadikan latar dari sebuah karya sinematik. Duh, ternyata dunia yang satu ini tidak gampang dan sederhana, meskipun para penikmatnya kadang tak perlu direpotkan dengan tetek-bengek yang bersifat akademik agar bisa menikmati sebuah film.

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menonton film bersama seorang karib berjudul Casino Royale di Bukit Jambul Theatre. Atas kebaikan teman, saya bisa masuk tanpa karcis (baca: gratis). Tidak itu saja, kami berdua juga dibawakan pop corn (jagung brondong) dan pepsi cola. Tentu menyenangkan, bukan? Lalu, haruskah kita masih disibukkan untuk membingkai film ini dalam sebuah referensi agar makna ‘film’ utuh sampai di kepala kita?

Film tidak seperti buku, karena ia dilihat dalam satu waktu. Ia susah diberi highlight agar kita bisa menengoknya kembali dan menghubungkan dengan teks (scene) yang lain agar kita bisa menjaga kesinambungan sebuah alur. Ya, film memaksa kita untuk duduk manis dan kalau bisa tak berkedip agar tidak ketinggalan sedetikpun adegan dari awal hingga akhir. Namun, kelebihannya, ia menunjukkan sebuah peristiwa audio-visual (dengar-pandang) yang memungkinkan keterlibatan emosi lebih dalam karena seluruh alat indera kita bekerja maksimal dan mudah.

Lalu, mungkinkan kita bisa memahami film dengan baik ketika ia mengandaikan sebuah budaya dan gaya komunikasi yang tidak sama dengan kita? Bukankah ketika kita menafsirkan keduanya akan selalu merujuk kepada pengalaman kita? Di sinilah, masalah ‘distansiasi’ muncul, sebuah keberjarakan antara dunia layar lebar dan pengetahuan kita yang secara a priopri telah ‘memberikan’ karakterisasi pada tokoh, setting cerita, alur, dan dialog dalam pengalaman kita (bersifat eksistensial).

Kalau kita mengurai lebih jauh pesan sebuah film sejatinya berkaitan erat dengan banyak hal, tidak hanya kapitalisme, tetapi ideologi sang pembuat. Di sini, sutradara, penulis skenario dan tukang kamera berada dalam satu pusaran yang sama. Kita mafhum bahwa secara umum Barat menganut ideologi sekuler. Oleh karena itu, Casino Royal bisa dikotakkan sebagai hasil ideologisasi mereka dalam dunia filmis. Di sini, nilai lebih berpijak pada kebebasan dan humanisme. Persoalannya sekarang adalah apakah ideologi yang kita anut sehingga bisa memberikan apresiasi yang baik terhadap keseluruhan konsep cerita? Jika kita menganut ideologi yang berbeda, mungkinkan kita bisa memahami film Barat dengan baik?

Hal lain yang penting adalah komunikasi sebagai alat penyampaian pesan yang dikemas dalam dialog. Di sini masalah lain juga muncul, yaitu komunikator pesan komunikan tidak berada dalam tune yang sama. Kemungkinan ‘kehilangan’ dan ‘pengherotan’ serta bias terhadap pesan muncul karena bahasa Inggeris dan bahasa Indonesia mempunyai pandangan hidup (weltanschauung) sendiri yang mempunyai andil besar dalam memengaruhi maksud yang diinginkan oleh sang penutur ketika kita menangkap tindakan wicara (‘speec act’) dengan seluruh kesadaran yang ada pada diri sang penerima.

Nah, agar kita tidak disibukkan oleh kesulitan menyesuaikan tune, alangkah baiknya dalam kesempatan lain kita turut memberikan apresiasi dengan menonton film kita sendiri. Tetapi, sayang film kita banyak meniru adegan Barat. Coba tengok Ungu Violet! Sebuah acara pemakaman ditandai dengan iringan mobil berwarna hitam dan suasana pemakaman persis ketika kita lihat film Barat yang menceritakan upacara kematian. Atau, karena latar belakang saya yang berasal dari kampung, di mana upacara kematian itu dimulai dari pemandian jenazah, penyolatan, penguburan yang dilakukan dengan keranda yang diusung sambil melafalkan kalimat tawhid dan suasana pekuburan kita tidak melihat ada orang yang menggunakan jas hitam, melainkan seorang kiai yang menggunakan serban, sehingga sebuah film lokal tampak aneh karena beraroma dunia sana, bukan sini.

Ahmad Sahidah
Penikmat Film

Comments

Faniez said…
Sekarang malah semakin banyak film Indonesia yang sulit dipahami. Lalu untuk apa ya dibuat susah begitu? Katanya sih biar 'kelihatannya' keren.
Seperti film Betina misalnya, teman saya yang pengamat film aja juga gak ngerti ceritanya maunya gimana, apalagi saya yg cuma bisa nonton.
:)


-blog.faniez.net-

Popular Posts