Sunday, December 10, 2006

Makan Malam yang Beda

Mungkin karena sore yang basah, lapar lebih cepat daripada biasanya. Sehingga menunggu maghrib tiba terasa sangat lama. Ketika azan dikumandangkan dari surau, saya bergegas ke bawah. Syukur, jendela kamar saya mengarah ke pengeras suara, sehingga panggilan ilahi dapat terdengar dengan jelas. Di musalla, saya bersua dengan Pak Ardi. dia bertanya apa saya udah makan, lalu saya bilang bahwa kami akan makan di luar sehabis sembahyang.

Berempat kami pergi menuju Rumah Makan Padang Bukit Jambul. Kikil adalah menu pilihan saya, karena selama di Malaysia saya tidak pernah melahapnya, ditambah perkedel dan sayur gulai nangka. Aroma yang mengundang selera dan nasi yang empuk membuat makan saya nikmat. Rasa yang beda dengan masakan Malaysia atau India. Di sela makan, kami ngobrol tak tentu arah, ke mana angin berhembus, kami pasrah. Topik hangat yang mencuri perhatian adalah poligami. Satu sama lain melihat sisi berbeda dari praktik ini. Menarik, memang. Tapi, perbincangan ini ujung-ujungnya masalah perempuan. Lelaki di mana saja memulai dan mengakhiri percakapan acapkali tentang kaum hawa.

Tak jauh beda dengan warung Jawa, harganya sekitar RM 5, makan dan minum. Santan untuk kuah nangka sangat kuat menendang lidah, rasa kikil yang kenyal ingatkan rumah Jojga, dan mungkin yang tidak ada memori adalah teh ais (teh, susu, dan diberi es, tapi rasanya beda dengan minuman yang sama di kota Gudeg), serta perkedelnya sengaja dipilih untuk menambah selera.

Di warung sebelum tampak kedai makan Cina yang ramai pelanggan. Saya tidak ingat dengan jelas siapa yang memulai cerita bahwa pemiliknya pasti menggunakan bomoh (dukun) untuk membuat laris jualannya. Aduh, ternyata di sini dunia 'lain' masih menjadi pilihan menjalani hidup. Tak jauh beda dengan keseharian masyarakat Indonesia. Malah, majalah yang paling laku di sini adalah Mastika, yang mengungkap dunia mistik kaum Melayu.

No comments: