Buku terjemahan Filsafat Mudah Retak

Dalam sebuah bedah bukunya di UIN Sunan Kalijaga, F Budi Hardiman ditanya oleh peserta tentang kegelisahannya mengenai derasnya minat mahasiswa untuk belajar filsafat yang nota bene adalah pengalaman Barat. Sepertinya, kita dipaksa untuk belajar dan memecahkan persoalan bangsa lain dengan mengabaikan persoalan pemikiran Indonesia. Belum lagi jika kita lihat pengalaman riil Indonesia yang berbeda dengan Barat. Sementara yang terakhir telah memasuki kritik terhadap modernitas –dengan mengajukan posmodernisme sebagai alternatif lain dari kebuntuan klaim modernitas akan kebenaran dan runtuhnya narasi tunggal. Secara tegas, dia menyatakan pentingnya belajar pengalaman kegagalan Barat dengan proyek modernitasnya. Dengan mempelajarinya, kita lebih antisipatif dalam menghitung dampak cara berpikir dan pragmatisme absolut tanpa memikirkan kontribusi pemikiran kesatuan.

Memang terasa aneh, bahwa secara keseluruhan perjalanan pemikiran bangsa Indonesia mengadopsi klenik, progresif dan rasional. Menggambarkan perjalanan sejarah bangsa ini tidak semudah Barat yang relatif tunggal dalam mewujudkan progress, meskipun akhirnya dikritik sebagai produk pencerahan yang mengecewakan. Namun hal ini seharusnya tidak menghalangi untuk mengambil “nilai-nilai” mereka dan menjadikan instrumen untuk membaca pengalaman kita sendiri.

Ilustrasi di atas membantu untuk kembali melihat filsafat dalam sudut pandang kita sendiri. Kesulitan untuk memposisikan problem kedisinian telah membuat kita gamang untuk memberikan perhatian secara lugas pada cara berpikir logis dan koheren tentang masalah yang dihadapi bangsa ini. Penerjemahan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Indonesia baik yang populer maupun serius telah mengajak kita untuk menggunakan pemikiran kritis memetakan persoalan yang berserakan di negeri ini.

Walaupun penerjemahan adalah tindakan bunuh diri tetapi ia perlu dilihat sebagai transformasi pengetahuan dan pengalaman yang lain pada masa tertentu dan lokalitas tertentu (perlu dipertimbangkan relasi pengetahuan-kuasa Foucault). Dengan demikian, secara umum pengalaman manusia itu, betapapun khasnya, tetap mencerminkan respon terhadap fenomena sosial dan alam.

Sesuatu yang mudah Retak
Rintisan penerjemahan yang dilakukan oleh Yayasan Obor telah menemukan kelimpahannya pada awal tahun 90-an. Banyak penerbit telah menerjemahkan banyak buku filsafat ke dalam bahasa Indonesia sehingga pikiran-pikiran cerdas ini mampu membuka kembali kritisisme. Dari Filsafat awal hingga posmodernisme, kita dihadapkan dengan banyak alternatif pemikiran yang akhirnya mengantarkan kita untuk mengkritik masalah yang bersifat lokal dan khas.

Haruskah penerjemahan diributkan hanya karena dilihat banyak kesalahan? Jawabannya jelas ya, tetapi harus ada kritik yang telah dilakukan beberapa teman dalam rubrik Di Balik Buku belakangan ini. Di luar kesulitan yang membelit penerbitan berkaitan dengan kualitas penerjemahan, harus diperbincangkan jarak antara teks asli dan reproduksinya.

Di sini pemikiran Georg-Hans Gadamer (1975: 346) membantu kita untuk melihatnya sebagai problem pengetahuan itu sendiri. Tidak diragukan bahwa terjemahan sebuah teks, betapapun banyak penerjemah merasakan dirinya ke dalam penulisnya, tidak bisa benar-benar memunculkan kembali peristiwa orisinal di dalam pikiran penulis, karena penerjemah tidak hanya melakukan reproduksi tetapi juga penafsiran. Sebuah penjelasan baru terhadap teks bahasa lain dan untuk pembacanya. Di dalam bukunya Truth and Method, dia menegaskan beberapa kali bahwa penerjemah adalah penafsir.

Memang, lanjut Gadamer, jurang pemisah antara semangat kata-kata asli dan reproduksinya tidak pernah bisa didekatkan secara sempurna. Ini harus diterima. Di sini, terjemahan perlu penjelasan baru, yang memang menjadi tugas penerjemah. Salah satu pokok yang harus dicermati adalah sisi batin dari sang penulis karena perbedaan sejarah dan psikologi.

Namun sebelum buku terjemahan dilempar ke publik, penerbit harus juga melibatkan para pembaca ahli untuk memberikan pengantar sekaligus memeriksa kualitasnya. Mungkin kita perlu menjenguk sejenak pengantar Frans Magnis Suseno untuk sebuah buku Filsafat, “Terjemahan in tentu tidak sempurna. Masih ada beberapa kesalahan penerjemahan. Namun, barangkali alam akademis Indonesia memang belum mampu untuk menghasilkan terjemahan-terjemahan yang betul-betul memadai. Menuntut hal itu akan berarti tidak ada terjemahan sama sekali, karena adanya segelintir orang di seluruh akademik Indonesia mampu untuk melakukannya atau untuk memperbaiki terjemahan orangl ain, dan mereka itu tentu tidak mempunyai waktu. Jadi perlu kita bersedia menerima kompromi. buku ini memenuhi standar minimal agar dipublikasikan: teks-teks dalam buku ini pada umumnya memungkinkan pembaca untuk menangkap apa yang dimaksud oleh Marx. Ia tidak akan ditipu. Apalagi, bahasa terjemahan lancar sehingga teks-teks Marx – yang dalam bahasa aslinya, bahasa Jerman, amat berat bahasanya – dapat dimengerti. Karena itu saya merekomendasikan buku ini – disertai harapan bahwa sebelum terbitan kedua beberapa salah ketik dan beberapa dari salah terjemah dapat dibetulkan”

Jadi sang profesor telah melakukan langkah nyata untuk menegaskan sebuah karya sebagai jembatan – betapapun rapuhnya – yang mengantarkan kita pada nafas sesungguhnya dari sebuah karya. Bahkan lebih jauh Dr. Mulyadi Kertanegara memberi contoh yang baik bagaimana menerjemahkan sebuah buku (The Adventure of Islamnya Marshal G. Hodgson) dengan memberikan pengantar untuk memberikan konsistensi dan koherensi sebuah penerjemahan kata sehingga memunculkan makna yang mendekati kata yang dimaksud. Contoh lain adalah pengantar Prof. Machasin (God and Man in the Qur’annya Toshihiku Izutsu) yang memberikan penilaian laiknya sebuah terjemahan dalam mengalihbahasakan yang asli pada yang reproduksi. Mari kita kritik buku terjemahan dan membelinya.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen