Wednesday, April 18, 2007

Haruskah Belajar Islam di (dari) Malaysia

Koran }} Opini

Kamis, 18 April 2007


Oleh:

Ahmad Sahidah
Graduate Research Assistant di Universitas Sains Malaysia

Tajuk di atas mengandaikan kemungkinan belajar tentang Islam dan sekaligus mengenal bagaimana gerakan keagamaan di negeri Jiran ini mengayomi pemeluknya? Mungkin pilihan belajar Islam tingkat lanjut di tanah Melayu ini tidak akan jadi pilihan utama mahasiswa di Indonesia. Atau, bahkan kita tak perlu mengaca bagaimana pegiat keagamaan di sana berkiprah untuk memajukan idealisme keislamannya?

Dalam sejarah Islam nusantara, agama ini lebih dulu berkembang di Aceh dan kemudian menyebar ke seluruh tanah pertiwi yang sekarang menjadi bagian dari Indonesia. Adalah tidak aneh jika kita menemukan karya ulama terdahulu dan tradisi keilmuan yang berjalan marak karena para ulama pada masa itu tidak hanya rajin menyampaikan pesan keagamaan di atas panggung tetapi mereka juga berkarya untuk mengembangkan keilmuan. Sejarah panjang ini telah memberikan ilham untuk mengembangkan kajian Islam melalui pendidikan formal maupun tidak.

Sekarang, gairah keagamaan juga ditopang dengan tumbuhnya pelbagai organisasi kemasyarakatan. Bahkan, lebih jauh mereka telah berhasil membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan pesantren. Pendek kata, bangsa Indonesia mempunyai pengalaman panjang dalam dunia intelektualisme Islam dan beragam perkumpulan. Tidak boleh dinafikan, keberhasilan ini juga turut mempengaruhi perkembangan ‘pemikiran’ dan organisasi Islam di Malaysia. Lalu, mengapa sekarang kita harus menengok kesuksesan negeri jiran ini mengelola pendidikan Islam dan kelompok keagamaannya?

Organisasi keagamaan

Negara Jiran yang menabalkan dirinya sebagai negara Islam membuat peruntukan bajet negara untuk aktivitas keagamaan. Tak jauh berbeda dengan kita, negara menggelontorkan uang untuk Departemen Agama. Tambahan lagi, kedua-duanya juga mempunyai organisasi keagamaan partikelir yang digerakkan oleh pelbagai aliran. Sayangnya, secara umum organisasi keagamaan di Indonesia tidak berhasil mengelola kegiatan ekonomi yang bisa mendukung aktivitas keagamaan secara mandiri. Bahkan, sebuah ormas keagamaan modern di sini juga gagal melejitkan kehidupan ekonomi warganya meskipun dianggotai oleh para profesional dan sarjana.

Ketika saya mengikuti salah satu acara Rufaqa, metamorfosis Darul Arqam, Dr. Abdurrahman Efendi asal Indonesia menceritakan bahawa modal dari kegiatan ekonomi mereka adalah Allah, sementara 200 peserta dari salah satu ormas Islam terbesar Indonesia, tak perlu Tuhan, hanya perlu uang 200 juta untuk membuka outlet ketika mengikuti sebuah pelatihan yang diselenggarakan al-Arqam. Padahal, kata Efendi, seandainya seluruh anggota dari cabang salah satu organisasi tersebut meminta anggotanya untuk berhenti merokok dan menyisihkan uangnya niscaya terkumpul dana yang cukup besar untuk memulai sebuah usaha. Tetapi, siapakah yang sanggup melakukannya?

Sayangnya lagi, kita lebih banyak berdebat tentang substansi ajaran keagamaan. Agama telah dikebiri menjadi urusan ‘ibadah’ oleh kaum tradisional, sementara kelompok liberalnya lebih suka membincangkan substansi Islam dan menafikan kaitan Islam dengan kehidupan yang lebih luas, seperti ekonomi misalnya. Sedangkan sebagian pemuka agama lebih asyik dengan bermain ‘politik’.

Di sini kita banyak menemui institusi keagamaan progresif yang mengusung tema-tema besar seperti demokrasi, kesetaraan jender, dan sekulerisme. Sebuah fenomena yang jarang ditemui di Malaysia. Mungkin hanya Sisters in Islam yang mengusung isu yang sama. Padahal apa yang dipersoalkan itu boleh dikatakan sebagai turunan daripada masalah ‘ekonomi’. Jika para pegiat keagamaan tidak segera memperhatikan kemiskinan yang mendera anggotanya, maka upaya menyebarkan ide-ide besar itu seperti menegakkan benang basah. Energi kita terkuras habis hanya untuk bertengkar, manakal masalah yang sangat mendasar terabaikan.

Pendidikan Islam di Perguruan Tinggi

Sentral pemikiran Islam boleh dikatakan berpusat di ISTAC UIAM, UKM, USM dan UM. Tentu saja, lembaga yang layak mendapat perhatian adalah ISTAC. Di bawah pengayoman Prof Naquib al-Attas, para mahasiswanya dikenal sebagai kelompok terdepan membela ‘otentisitas’ Islam dari rongrongan hegemoni intelektual Barat. Hampir secara keseluruhan, para sarjana di tanah Melayu ini berada di bawah bayang-bayang kebesaran Naquib.

Sebuah motto ISTAC A unique opportunity to study with Muslim Scholars from around the World adalah sebuah petanda ikhtiar untuk memosisikan dirinya sebagai pusat pembelajaran di tingkat internasional. Jargon ini bukan untuk gagah-gagahan, tapi didukung oleh para dosen yang didatangkan dari seluruh dunia Islam dan tentu saja ditopang oleh perpustakaan yang bisa dikatakan salah satu terbaik di dunia. Para dosen tersebut menulis karya di dalam bahasa Arab atau Inggeris yang diterbitkan oleh universitas tempat mereka berkhidmat.

Selain itu, promosi yang gencar di sejumlah negara Asia, Afrika dan Arab serta kemampuan stafnya dalam bahasa Inggeris memungkinkan kemasukan (enrollment) mahasiswa asing makin besar. Apalagi, banyak calon mahasiswa dari Arab yang mendapatkan kesulitan untuk belajar di Amerika dan Eropah setelah peristiwa 9/11, sehingga mereka memilih Malaysia karena dianggap sebagai salah satu negara yang mempunyai citra yang baik dalam dunia pendidikan.

Selain itu, birokrasi yang efisien, fasilitas yang memadai dan perpustakaan yang nyaman adalah upaya nyata agar citra yang ingin dibangun makin menjulang. Adalah tidak aneh, teman saya dari Iran, Mohsin J Bagjiran menulis disertasi tentang pemikiran Rumi di Universitas Sains Malaysia. Padahal kultur Rumi adalah negara Persia, tempat dia lahir dan belajar.

Pesona pemikiran keislaman di sana juga disemburatkan oleh kegigihan para sarjananya dalam berkiprah di dunia intelektual. Sekadar menyebut contoh adalah Naquib al-Attas dan Candra Muzaffar yang dikenal di dunia Internasional. Selain didukung oleh kemampuan orasinya dalam bahasa Inggeris, mereka juga menulis karya tentang Islam dalam bahasa ini. Bahkan, ketika Ziauddin Sardar menulis sebuah karya cemerlang bertajuk Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come beliau merujuk kepada dua sarjana di atas. Secara tersirat beliau meletakkan ‘masa depan’ pemikiran Islam di pundak sarjana negeri Jiran ini.

Kita bukan tidak memiliki sarjana jebolan luar negeri yang pintar dan menulis di dalam bahasa Inggeris. Tetapi prestasi ini belum mengatasi kemasyhuran karya Naquib yang telah diterjemahkan ke dalam lebih duapuluhan bahasa di dunia. Lagi-lagi, beliau membawa ‘nama Malaysia’, meskipun penggagas Islamisasi pengetahuan ini lahir di Bogor. Bahkan, kalau saya perhatikan, diskursus keilmuan Islam di Indonesia lebih marak dan beragam, dibandingkan dengan tanah Melayu yang masih banyak diwarnai pemahaman ortodoksi. Tetapi, itu tidak cukup untuk membuat negeri kita diperhitungkan jika tidak dibarengi dengan perbaikan administrasi dan strategi ‘pemasaran’ sebagaimana dilakukan oleh Malaysia.

No comments: