Menengok Perpustakaan di Negeri Jiran

AHMAD SAHIDAH
Mahasiswa PhD Ilmu Humaniora
Universitas Sains Malaysia

Mungkin semua orang akan mengakui bahwa wajah perpustakaan di tanah air tampak centang-perenang. Tentu saja keadaan ini sangat menyedihkan. Karena bagaimanapun ia adalah jantung dari dunia pengetahuan. Detaknya yang lambat akan membuat tubuh pengetahuan lemah, tidak energik dan tidak responsif menanggapi persoalan.

Mental ‘ambtenaar’ para pegawai perpustakaan adalah wajah pendidikan muram kita, meskipun harus dimaklumi gaji yang diterimanya tidak cukup untuk bekerja secara profesional. Mereka adalah pegawai biasa yang dilahirkan untuk mencatat peminjam buku, bukan membacanya. Terlalu berlebihan jika kita ingin membandingkannya dengan pustakawan perpustakaan universitas di Barat.

Kenyataan lain adalah bahwa hampir semua perpustakaan di seluruh negeri ini tampak mengenaskan, tidak hanya buku-buku baru bisa dihitung dengan jari, tetapi juga langganan jurnal hampir tidak dilakukan. Lalu, mungkinkah para mahasiswanya mengikuti diskursus terbaru? Malangnya lagi, saya mempunyai pengalaman yang mengharukan ketika menyambangi sebuah perpustakaan Pasca Sarjana UIN Jakarta yang tampak tak terurus dan koleksi yang tak layak untuk sekolah tingkat lanjut. Sebuah kenyataan yang menggerus nama besarnya sebagai universitas papan atas.

Tentu kita tak perlu meratapi ini, karena di tengah keadaan yang mengenaskan masih ada tangan-tangan terampil yang menulis buku, cerpen dan novel baru untuk dinikmati pembaca. Dalam hal ini, negeri Jiran harus gigit jari. Di sana, kita hanya akan disuguhkan ‘deretan’ karya asing. Bahkan, jika kita membaca buku terlaris di media massa, rata-rata adalah karya asing. Memang, secara rata-rata pelajar negeri Jiran terbiasa membaca literatur bahasa Inggeris. Apalagi, dua koran berbahasa Inggeris terkenal, the Star dan Newstraits juga menjadi menu harian bacaan mahasiswa sebagaimana koran berbahasa Melayu, Utusan dan Berita Harian.

Lalu, bagaimana sebenarnya wajah perpustakaan negera tetangga? Hampir semua perpustakaan universitas di sana buka sampai pukul sepuluh malam. Bahkan, pada hari minggu dan liburan semester kita masih bisa mengunjunginya. Geliat untuk menjadi lembaga pendidikan bertaraf internasional membuat pengelolanya menyesuaikan dengan standar ISO [International Organization for Standardization). Tidak hanya dipenuhi dengan buku-buku baru yang selalu dipajang di display, tetapi juga secara teratur mereka berlangganan jurnal baru berkaitan dengan pelbagai disiplin. Journal Foreign Affairs yang membuat artikel pertama Samuel Huntington tentang ‘Benturan Peradaban’ secara berkala dipampang di rak khusus majalah sehingga setiap mahasiswa bisa mengakses informasi terbaru tentang isu-isu hubungan internasional.

Bahkan, jurnal kiri (seperti New Left Review atau International Socialism) juga secara rutin diterima bersamaan dengan jurnal lain berkaitan dengan feminisme, kerja sosial, antropologi, sosiologi, kebudayaan populer dan disiplin lain sehingga ia benar-benar surga bagi mereka yang haus akan informasi terkini. Belum lagi, majalah terbitan luar seperti TIME, Newsweek, dan lain-lain. Fenomena semacam ini dapat ditemui di seluruh perpustakaan Negeri Jiran. Paling tidak, saya telah mendatangi 4 perpustakaan universitas di sana dengan fasilitas yang tak jauh berbeda.

Kerani perpustakaan dengan tanggap mengantarkan kita untuk menunjukkan buku yang kita cari tanpa wajah cemberut, meskipun kita tidak bisa berharap banyak ia akan bercerita isi buku. Bahkan, kotak saran tidak hanya menjadi aksesoris, namun benar-benar menjadi penghubung antara mahasiswa dan staf perpustakaan. Bahkan dengan sepotong kertas pengantar dari pembimbing disertasi, kita bisa meminta untuk membeli buku yang kita perlukan.

Selain itu, setiap perpustakaan di sana dilengkapi dengan ruangan untuk mendengarkan musik dengan sound system dan tempat yang nyaman dengan koleksi lagu dari klasik hingga modern. Sebuah tempat rehat yang nyaman ketika suntuk menyerang disebabkan mata lelah memelototi huruf-huruf, atau pengguna bisa pindah ke ruangan lain, tempat kita bisa meminjam pelbagai jenis film populer, dokumenter dan pengetahuan. Di sini, pembaca akan menemui banyak koleksi kuliah dalam bentuk kaset video dari beberapa sosiolog, filsuf dan bahkan seri kuliah Edward Said. Bahkan di sini para mahasiswa bisa menikmati film Hollywood. Oh ya, saya pernah ‘meminjam’ kaset CD ‘Instinct’ (tanpa Basic), lakonan Anthony Hopkins yang menceritakan seorang antropolog yang mengadakan penelitian kehidupan gorilla. Dalam perjalannya, sang tokoh ‘secara emosional’ menjadi keluarga besar binatang raksasa ini.

Fasilitas ini tentu saja tidak lahir begitu saja. Ia lahir bersama waktu dan keinginan untuk membenahi jantung pengetahuan. Tidak itu saja, bulan membaca diisi dengan banyak kegiatan meliputi seminar, workshop dan pameran. Bahkan, di ruang kosong perpustakaan dihiasi dengan foto peraih nobel. Uniknya, dalam sebuah pameran untuk menarik minat mahasiswa buku-buku Pram dan Hamka dipajang sebagai karya besar Nusantara (bukan Indonesia!).

Sebagaimana negara yang pernah belajar pada bangsa kita, seperti mendatangkan guru Indonesia pada tahun 1970-an, dan banyak para guru besarnya keturunan Indonesia, maka Malaysia telah memantapkan posisinya untuk menjadi universitas Internasional, meskipun kebanyakan mahasiswa berasal dari Timur Tengah, Asia Tenggara dan Asia Tengah. Tentu, ini belum seberapa dibandingkan dengan Amerika dan Eropa, namun kata teman teman saya dari UGM yang sedang menyelesaikan PhDnya di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) bahwa UGM mungkin tidak perlu malu untuk belajar mengurus perpustakaan dari Negeri Jiran ini. Sebagai mahasiswa bidang biologi, dia merasa dimanjakan oleh puluhan jurnal biologi yang dilanggan oleh pihak universitas. Aneh bukan?

Belum lagi, jika kita membandingkan dengan perpustakaan Universitas Nasional Singapura. Dalam sebuah kunjungan singkat, saya betul-betul menemukan tempat yang nyaman untuk menerokai khazanah pemikiran karena koleksi yang lengkap, baik dalam bentuk cetak atau elektronik. Bahkan, keramahan keraninya membuat kita seperti di rumah sendiri. Hebatnya lagi, di salah satu perpustakaan yang mengkhususkan kajian Asia tenggara, kita bisa membaca koran terbitan Indonesia (termasuk Republika) pada hari yang sama.

Namun jangan gundah, kita tak perlu menggantungkan pada tumpukan buku, yang kata Oka Rusmini dalam Sagranya, aku ingin mereka tidak sekadar kakus-kakus intelektual orang-orang luar. Ya, hampir semua buku yang ada di sana adalah karya orang luar. Penulis dari negera tetangga ini sendiri bisa dihitung dengan jari. Malah, buku-buku yang ditulis para pengarang Indonesia turut memenuhi rak-rak panjang perpustakaan universitas tempat saya belajar. Bahkan, dua buku teman sekelas saya di UIN Yogyakarta Kuswaidi Syafi’ie juga tersedia. Ah, betapa bangganya!

Dari paparan sekilas di atas, sudah waktunya para pendidik dan pejabat publik memikirkan bagaimana mewujudkan perpustakaan yang memenuhi standar internasional agar memungkinkan para mahasiswa dan masyarakat umum bisa mengakses informasi aktual dan memperoleh buku baru dengan mudah.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen