Membaca Ulang Buku yang Pernah Dipinjam


Akhirnya, saya meminjam kembali buku The History of The Qur'anic Text yang ditulis oleh Prof M. M. Al-A'zami. Buku yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipuji oleh banyak orang karena berhasil menjadi pandangan perlawanan terhadap kajian orientalis terhadap al-Qur'an. Selain itu, ia tentu saja akan membantu saya nanti ketika akan menghadapi ujian promosi. Lebih-lebih lagi, saya juga menemukan buku Adnin Armas bertajuk Metodologi Bibel dalam Studi al-Qur'an yang diterbitkan oleh Gema Insani Pers. Karya ini juga disanjung karena mampu menjawab tudingan orientalis terhadap ketidaksucian al-Qur'an.

Biarlah mereka bertarung ide tentang al-Qur'an, sementara kata Nasr Abu Zayd bahwa praktik agama itu sendiri tidak serumit teori yang diperdebatkan. Tidak berarti saya meremehkan, tetapi mencoba mencocokkan apakah kerumitan itu tidak bisa disederhanakan menjadi kata-kata yang menyentuh jiwa. Ya, pesan al-Qur'an harus juga mampu diwujudkan dalam bahasa-bahasa yang bisa mengantarkan pembacanya lebih dekat dengan persoalan hidupnya. Mungkin, sastera adalah jawaban yang tepat bagaimana ayat suci itu menemukan bentuknya dalam daya ucap setiap orang yang sedang gundah karena pegangannya lemah.

Oleh karena itu, saya berusaha untuk juga selalu membawa pulang karya sastera, baik dalam bentuk novel maupun cerpen. Boleh dikatakan, hampir semua karya sastera yang menjadi koleksi perpustakaan telah saya pinjam. Mungkin, karya lama tidak menarik perhatian karena kertasnya udah menguning dan baunya apek. Ya, dengan musik lembut saya menekuri dunia cerita agar pemikiran yang njlimet itu menemukan bentuknya yang mudah dicerna. Bukankah membaca novel The Age of Reasonnya Jean Paul Sartre lebih melenakan dibandingkan dengan membacanya bukunya yang sarat dengan telaah sistematik tentang eksistensi?

Bukan berarti menggampang masalah dan mengambil jalan pintas meraih makna, tetapi harus ada upaya untuk menyerasikan antara dunia ide dan praksis. Jika demikian, ini akan selalu mengingatkan saya pada sosok guru filsafat saya, Romo Haryatmoko di UIN Yogyakarta, yang selalu menyisipkan contoh keseharian dari teori filsafat yang diajarkannya. Dengan demikian, ilmu ini terasa dekat dan tidak lagi mengawang-awang.

Betapapun saya menganggap hidup mesti mengalir, terkadang ada ngarai yang menghadang laju perahu kita. Seperti hari ini, saya begitu terkejut bahwa saya tidak bisa menemui Profesor yang telah sekian bulan tidak bertemu karena beliau menjadi profesor tamu di Fakultas Sastera dan Seni Universitas Brunei Darussalam. Padahal, niat ini telah bulat dan segera mengajukan kepastian tentang ujian disertasi saya. Ada sepersekian detik, saya merasakan kaki lunglai, tetapi kebaikan teman saya membantu melupakan sejenak dan bersama-sama keluar makan siang. Saya juga mengirim pesan pendek (sms) ke isteri bahwa pertemuan dengan pembimbing ditunda hingga ke tanggal 14 Januari 2008. Dia menguatkan saya agar sabar menanti hari tiba.

Hikmahnya, saya ingin segera menyelesaikan pembacaan terhadap manuskrip Bahr al-Lahut yang diterima dari Perpustakaan Universitas Leiden, atas kebaikan keraninya Silvia Vermetten. Dalam waktu dua mingguan, saya bisa menyelesaikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab mengenai otentisitas, asal usul, materi dari kitab yang ditulis pada abad ke-7M ini. Apakah Abdullah Arif (Arifin) adalah nama dari sang pengarang atau gelar yang disandangnya? Tentu, ini memerlukan kejelian dan ketelatenan.


Comments

Popular Posts