Kawan Melayu Saya

Pertama kali menempati kamar asrama Restu Universiti Sains Malaysia, saya berbagi kamar dengan anak Melayu, namanya Yazid. Dia berasal dari Johor dan mengambil program master bidang kedokteran. Penelitiannya berkaitan dengan penyakit kanker payudara. Anehnya, meskipun seringkali berkutat dengan masalah kesehatan, kawan baik ini menghisap asap rokok putih, bukan kretek.

Terus terang, di antara kami berdua tidak menemui hambatan berarti di dalam berkomunikasi. Ternyata, pernyataan bahwa kita 'serumpun' bukan merupakan kata-kata kosong. Pandangan dunia yang sama membuat kami tidak menemukan halangan dalam menjalani keseharian. Demikian tetangga kamar saya, Pak Rahman, yang mengambil program doktor bidang ilmu manajemen, acapkali bercengkerama dan keluar mencari asupan. Ini jelas-jelas bentuk nyata bahwa kami banyak menyimpan warisan sejarah yang sama, sehingga tak perlu lama untuk saling berbagi.

Dari Pak Rahman, saya memasuki dunia Melayu. Kami berdua sering bemain sepak bola di lapangan Minden dengan anak-anak kampung dari segala tingkatan pendidikan. Memang, tampak aneh jika kami berdua mengocek bola dengan anak SD, tetapi karena kami hanya ingin merenggangkan otot dan mencari kesenangan, perbedaan itu tidak menjadi penghalang.

Meskipun demikian, saya kerap berbeda pandangan dengan Pak Rahman mengenai hubungan dua negara, tetapi kedewasaan ini tidak menjadikannya persoalan besar. Bagaimanapun, kedua bangsa ini tidak akan pernah bisa dipisahkan karena sejarah masa lalu mempertautkan hubungan yang erat antara warganya dan bahkan hingga kini.

Hari-hari terakhir ini pun, saya banyak menghabiskan waktu dengan kawan karib Melayu, En Fauzi Hussin dan En Zailani Yusoff. Bagi saya, kedua-duanya adalah teman terbaik. Tak jarang, kami saling mengolok-ngolok negara masing-masing, selain juga saling memuji. Tak ada beban untuk saling menjatuhkan, malah saling membangun. Ini bukan basa-basi.

Dalam sebuah kesempatan, ketika ditanya bagaimana kesan saya selama belajar di negri jiran, dengan lugas di sini saya merasa nyaman. Malaysia telah memberikan banyak kebaikan dan saya belum membalas setimpal. Namun terkadang saya melakukan kritik, meskipun itu bukan hal baru, sebab sebenarnya gagasan itu telah diungkapkan oleh para intelektualnya. Mungkin, bagi orang Indonesia di tanah air, informasi itu tak sempat didengarnya.

Selama tiga tahun di sini, sebenarnya saya seharusnya berusaha untuk mencoba menorehkan pengalaman manis itu ke dalam cerita yang lebih panjang, agar kesan selama berada di Malaysia terlihat utuh. Mungkin, ini akan menjadi 'satu ingatan' yang akan terus terpatri di hati, sehingga saya tidak mudah goyang ketika berita yang dimuat di surat kabar Indonesia lebih menyukai sensasi dan emosi sesaat dalam memotret sebuah bangsa yang mempunyai akar yang sama.


Comments

Popular Posts