Wajah Baru Jurnalisme Malaysia

Assalamu'alaikum,

Semalam, beberapa teman Indonesia berkumpul di kamar. Ada enam kepala yang menyesaki ruangan yang tak seberapa besar, namun justeru tak membuat kami sumpek. Kami bertukar cerita dan yang tak jarang juga menyelipkan percakapan tentang hiruk pikuk perpolitikan Malaysia. Terus terang, saya menemukan banyak 'amunisi' dari pandangan mereka untuk memahami lebih baik dan menyeluruh berkaitan dengan pernak-pernik dunia politik di sini. Apalagi di kamar tersedia koran alternatif, seperti Harakah, Suara Keadilan, dan Siasah sehingga kami bisa mendapatkan informasi yang seimbang. Bagaimanapun, saya menemukan perkembangan baru di dalam pemberitaan surat kabar arus utama, seperti Utusan, Berita Harian, The Star, dan New Strait Times.

Semalam, saya juga menonton TV 3 yang menyiarkan bincang politik pasca pemilu di Universiti Malaysia yang menghadirkan Dr Syed Hussin, Setiausaha (sekretaris) Parti Keadilan Rakyat. Mungkin, ini adalah sebuah perkembangan menarik ketika pihak oposisi mendapatkan ruang di universitas. Sayangnya, saya belum melihat Anwar Ibrahim tampil di televisi untuk dimintai pandangannya bagaimana Malaysia akan diurus. Janji manis politiknya tentang penurunan harga minyak, sekolah dan air gratis tentu merupakan tema yang menantang untuk dibedah.

Nah, tulisan di bawah ini adalah salah satu pandangan saya betapa Malaysia telah berada di jalan yang benar menuju negara maju pada tahun 2020.

Ahmad Sahidah
Pemerhati Politik

WACANA [Suara Merdeka]

15 Maret 2008
Wajah Baru Jurnalisme Malaysia

Oleh Ahmad Sahidah

SEPEKAN setelah pemilihan umum (pemilu) digelar, suhu politik negeri jiran ini masih panas. Kedua kubu yang berseteru, yaitu Barisan Nasional (BN) dan Barisan Alternatif (BA), masih berada dalam posisi saling bersaing merebut simpati. Meski keduanya sama-sama mempunyai komposisi tiga etnis penting (China, India, dan Melayu), BN tidak mengalami hambatan ideologis. Barisan Nasional merupakan sebuah koalisi yang terdiri atas United Malays National Organization (UMNO), Malaysian Chinese Assocation (MCA), dan Malaysia Indian Congress (MIC). Sedangkan BA dihadapkan pada perbedaan ideologi antara PAS (Partai Islam Se-Malaysia) yang relijius dan DAP (Democratic Action Party) yang sekular. Namun, karena pertimbangan pragmatis, keduanya bisa bekerja sama.

Seluruh surat kabar di Malaysia menyediakan ruang yang besar terhadap perbincangan politik. Jika sebelumnya koran utama seperti Utusan, Berita Harian, The Star, dan New Straits Time hanya menjadi kepanjangan suara pemerintah dan kroninya tanpa kritik, sekarang mereka ramai-ramai memuat berita dan opini yang menyerang Barisan Nasional.

Wacana surat kabar dan televisi telah bertambah, tidak lagi hanya hitam-putih. Ini bisa dilihat di koran Utusan (11/3/08) yang memuat sebuah opini yang berisi kritik keras terhadap Barisan Nasional. Tanpa tedeng aling-aling, Ahmad Hassan (mantan direktur Pusat Bahasa dan duta Malaysia UNESCO) mengatakan UMNO tidak mempunyai kepekaan moral dan budaya dalam memilih calon yang akan bersaing dalam bursa pemilihan legislatif. Banyak di antaranya yang tidak terpelajar, egois, dan terlibat korupsi.

Bahkan dalam artikel ini, Hassan memuji Nik Aziz Nik Mat (politisi gaek dari PAS) karena dianggap pemimpin yang matang dan visioner. Menteri Besar Kelantan ini menegaskan, semua yang bersaing dalam pemilu adalah bersaudara. Setelah pemilu, semua anak bangsa harus melupakan perbedaan dan siapapun harus membantu rakyat tanpa harus mempertimbangkan asal muasal. Ini merupakan pengakuan tulus yang tak mungkin dimuat di media utama.

Tidak itu saja, televisi pemerintah dan swasta yang semula hanya menyediakan ruang bagi koalisi penguasa untuk bermanis-manis, sekarang juga mengundang para pakar politik untuk mengupas kelemahan UMNO-BN. Sebelum hari pencoblosan, UMNO digambarkan sebagai partai kaum Melayu yang kompak di bawah PM Abdullah Badawi, tetapi dalam kenyataannya rapuh. Banyak pengurus yang menggembosi suara partainya karena dijegal untuk maju menjadi calon legislatif.

Membebaskan Media

Kalau sebelumnya pemerintah menguasai media dan membatasi akses oposisi, sekarang harus dipertimbangkan fungsi jurnalisme yang terbuka dan transparan. Penguasaan secara berlebihan mengakibatkan masyarakat muak. Karena itu, Tan Sio Choo, peneliti di Universiti Sains Malaysia, menegaskan BN telah melakukan sensor berlebihan terhadap media cetak sehingga membuatnya sakit.

Dia membuat perumpamaan, ‘’Jika anjing penjaga dipaksa untuk tidak menyalak pada pengacau, bagaimana seorang pemilik rumah akan mengetahui seseorang memasuki kandang dan mencuri ayam yang ada di dalamnya?’’. Tampaknya kritik ini mendorong BN untuk lebih terbuka terhadap suara kritis dan mengakui keberhasilan pembangkang dalam meruntuhkan dominasinya yang telah berusia setengah abad lebih.

Saya melihat BN masih setengah hati, mengingat kebiasaan koalisi berkuasa ini menggunakan media untuk menaikkan citra serta menghantam lawan (politiknya) tanpa ampun masih muncul dengan cara-cara yang lebih halus. Sementara media oposisi juga melakukan hal yang sama. Tetapi sejauh ini kode etik jurnalistik belum sepenuhnya diterapkan berkaitan dengan cross check dan pemberitaan yang seimbang. Begitu pula analisis yang diberikan para ahli masih berkutat pada pandangan hitam-putih dan partisan. Sementara pandangan jernih yang mengedepankan uraian logis, ilmiah, dan universal terpinggirkan.

Sebenarnya praktik otorianisme yang berjalan selama ini telah banyak dikritik para akademisi, meski terbatas pada buku teks. Kho Boo Teik, Francis Loh, dan Mohammad Yusoff adalah sedikit sarjana yang mengambil posisi netral dalam menilai pertarungan politik di Malaysia, meski terkadang yang disebut terakhir ini sering dikutip pernyataannya yang menguntungkan pemerintah.

Demikian pula sikap kritis mahasiswa semakin tumbuh, seiring meluasnya akses mereka terhadap internet yang menjadi lahan subur pemikiran alternatif. Pemerintah tak mampu bersikap keras dengan menyetop penyebaran informasi di dunia maya, sehingga masyarakat luas bisa mendapatkan menu lain dalam memenuhi rasa ingin mereka tahu terhadap isu-isu penting. Ya, dunia nyata telah tunduk pada dunia maya.

Media Alternatif

Salah satu faktor yang menjungkalkan kekuasaan BN di beberapa negeri bagian adalah suara kaum muda terpelajar. Kelompok ini relatif mandiri dalam menyerap informasi. Bagi mereka, berita televisi dan surat kabar yang memihak tentu bukan pilihan menarik. Meski ada sedikit media yang mencoba untuk menyuguhkan pendapat yang seimbang, seperti The Sun, Aliran, dan buletin yang diterbitkan oleh beberapa LSM. Mereka telah menghukum BN-UMNO dengan tidak memilih pada pemilu ke-12, seraya berharap kemunculan suasana baru.

Isu-isu yang dianggap sensitif oleh media utama dikupas lebih berhati-hati oleh media alternatif. Tentu saja hanya kalangan terpelajar yang bisa mengakses informasi di atas. Tapi jumlah mereka yang relatif besar memperbesar dukungan terhadap pihak yang dianiayai oleh pemerintah secara politik.

Kini, sudah saatnya media tidak lagi menjadi corong satu pihak tanpa memberi ruang bagi sebuah perbincangan yang adil dan terbuka. Penyensoran terhadap isu-isu penting hanya akan melahirkan hiperbolisasi terhadap persoalan yang diributkan. Inilah momentum bagi media untuk membuka diri bagi terciptanya komunikasi yang efektif dan tidak berat sebelah. Sekarang media telah memulai langkah baru dan harus selalu merawatnya, agar tak kembali layu. (32)—

--Ahmad Sahidah, graduate research assistant dan kandidat doktor Ilmu Humaniora, Universiti Sains Malaysia.

Comments

Popular posts from this blog

Distansiasi dan Apropriasi

Ramadan di Bukit Kachi [21]

Lautan Fragmen