Berkah "Kemenangan" Oposisi

Sumber: Seputar Indonesia [11/3/08]

Selasa, 11/03/2008
Berita utama surat kabar Tanah Air hampir seluruhnya memberitakan ”kemenangan” partai oposisi, Barisan Alternatif, yang terdiri atas komponen utama Partai Keadilan Rakyat (PKR), Democratic Action Party (DAP), dan Partai Islam se-Malaysia (PAS).

Mereka juga memberikan perhatian yang istimewa kepada Anwar Ibrahim. Tampak secara tersirat surat kabar kita menyambut baik kekalahan Barisan Nasional (BN) di dalam pemilihan umum ke-12 ini. Sementara koran utama di negeri tetangga hanya menyisakan sedikit ruang bagi tokoh oposisi yang pernah memegang jabatan wakil perdana menteri itu.

Halaman utama memberikan keistimewaan kepada Abdullah Badawi dan persiapan pelantikan sebagai perdana menteri (PM) oleh Raja Agung. Namun,The Sun(10/3/08) di halaman tengah memuat pernyataan Mahathir Mohammad bahwa Abdullah Badawi harus bertanggung jawab atas kekalahan BN dan oleh karena itu mesti segera mundur agar memberikan jalan kepada Muhammad Najib untuk menggantikannya.

Mahathir, Anwar, dan Badawi

Desakan mundur dari Mahathir secara moril memperburuk posisi Badawi. Namun,hari Senin pagi,Pak Lah –panggilan akrab Abdullah Badawi– tetap dilantik setelah sebelumnya menyatakan tidak akan mundur.

Kritik keras Mahathir tentu saja menambah beban Pak Lah makin berat. Meski demikian, seperti biasa, Pak Lah tidak meladeni bekas mentornya itu.Lebih-lebih anak Mahathir, Mukhris Mahathir, yang memenangi pemilihan di daerah pemilihan Jerlun Kedah turut meminta Pak Lah mundur (Harakah Daily, 10/3/08). Sebuah tohokan yang tak pernah terungkap sebelumnya. Bibit perpecahan di tubuh United Malays National Organization (UMNO) mulai bertunas.

Tentu saja, kehadiran Anwar Ibrahim dalam panggung politik layak mendapat perhatian.Meskipun Mahathir menyatakan bahwa bekas anak buahnya ini masih relevan, dia tidak akan menjadi PM.

Lain halnya dengan prediksi Shamsul Amri Baharuddin, analis politik Universiti Kebangsaan Malaysia. Menurutnya, Anwar bisa menjadi PM dalam 10 tahun yang akan datang. Dengan sigap Anwar pun menegaskan dalam jumpa pers yang banyak dihadiri agensi berita luar negeri bahwa dia akan mengorganisasi oposisi di parlemen. Sebuah isyarat bahwa bekas aktivis mahasiswa itu akan menjadi ikon bagi gerakan perlawanan terhadap dominasi BN.

Demokrasi Mulai Mekar

Jika pada hari pertama setelah pemilu belum muncul analisis mengapa BN mengalami kekalahan terburuk dalam sejarahnya, hari kedua surat kabar utama, Utusan, Berita Harian, New Strait Time, dan The Star,menurunkan beberapa analisis tentang suara protes rakyat terhadap partai koalisi yang berkuasa, yaitu UMNO, Malaysian Chinese Association (MCA), dan Malaysian Indian Congress (MIC).

Banyak analis yang mengemukakan bahwa mayoritas diam (silent majority) sedang menunjukkan taringnya dengan mengalihkan dukungannya kepada partai oposisi. Mereka merasa muak dengan provokasi BN yang keterlaluan di media cetak dan televisi tentang kelemahan oposisi.

Sikap jumawa ini justru mendatangkan tanggapan antipati, bukan simpati. Belum lagi proyek serbamega yang dilancarkan secara gencar seperti pembangunan ekonomi koridor utara, Sabah, dan koridor selatan tak menyentuh langsung kehidupan mereka.Harga barang tetap naik,kejahatan meruyak,dan korupsi juga merebak.Bahkan,beberapa hari menjelang pemilu, para elite BN secara kompak menyuarakan hal yang sama,keburukan Anwar Ibrahim.

Ternyata, pihak oposisi telah membaca masalah ini dengan baik. Mereka berhasil mengangkat isu negara kesejahteraan (welfare state) untuk memberikan warna yang berbeda dalam mengurus negara. Jika akhirnya mereka memperoleh kursi yang cukup meyakinkan, sekarang justru mereka memulai babak persaingan baru dalam merebut hati pemilih pada masa yang akan datang.

Sekarang partai oposisi telah mengambil ancang-ancang untuk menunjukkan kesungguhannya dalam menawan hati rakyat.Tan Sri Khaled Ibrahim, Menteri Besar Selangor (setingkat gubernur) dari PKR telah menyatakan bahwa dia akan mengevaluasi kerja pemerintah dalam 100 hari (The Sun,10/3/08).Demikian juga Lim Guan Eng, Sekretaris Jenderal DAP.

Dia menyatakan bahwa pemerintah akan menerapkan kebijakan yang ramah investor untuk mempertahankan Pulau Pinang sebagai pusat industri. Tentu ini bisa dipahami karena pulau yang dikenal dengan sebutan Mutiara ini menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi Malaysia.

Tampaknya oposisi tidak latah merayakan kemenangan. Mereka justru menjadikan awal kemenangan ini sebagai permulaan untuk mencitrakan diri sebagai partai berkuasa yang langsung bekerja. Bisa jadi, ini untuk menepis kritik BN selama ini bahwa oposisi tidak akan bisa mengurus ekonomi seperti yang telah dilakukan BN selama 50 tahun.

Keseimbangan Baru

Televisi dan surat kabar telah memberikan porsi pemberitaan untuk oposisi (di sana disebut pembangkang) meskipun kadang tidak digambarkan sebagaimana BN divisualisasikan dan dinarasikan.Namun,paling tidak ini akan membuka ruang bagi masyarakat menerima informasi yang seimbang.Jika BN masih memonopoli pemberitaan di TV dan surat kabar utama, koalisi yang memerintah sekarang ini justru mengulangi kesalahan yang sama.

Bahkan, di kampus yang sebelumnya relatif sepi dari perbincangan politik, di depan perpustakaan saya mendengar anak S-1 telah berani bersuara dan berbicara politik. Salah satu dari mereka mengatakan bahwa kemenangan oposisi akan memungkinkan kontrol (fungsi checks balances) berjalan. Dengan riang mereka berceloteh tentang tingkah polah pemimpin politik.

Seakan-akan belenggu secara perlahan mulai terlepas. Peristiwa 8 Maret telah memantik keberanian bersuara setelah selama ini dibekap atas nama stabilitas. Pendapat pakar politik telah dikutip apa adanya.Tidak sepertinya sebelumnya di mana analisis mereka diedit untuk menegaskan seakan-akan mendukung pemerintah.

Padahal, orang yang sama juga dikutip oleh media lawan yang memberikan angin pada oposisi.Saya sendiri mendengar langsung dari salah seorang dosen politik yang diwawancarai TV bahwa pernyataannya telah disunting secara serampangan.Pesan utama digunting tanpa ampun. Nah, sekarang masanya bagi BN untuk mengakhiri dominasi secara berlebihan.

Kemenangan oposisi seharusnya mendorong pemerintah untuk tidak lagi mengangkangi kebebasan rakyat. Tentu dengan suara yang tidak mencapai 2/3 akan membuat parlemen dari BN akan kesulitan memaksakan kehendaknya karena berhadapan dengan banyak tantangan Barisan Alternatif.

Di sinilah kontestasi benar-benar diuji oleh akal sehat dan pertimbangan kepentingan rakyat.Negara tetangga kita ini benar-benar telah memasuki era baru sebelum menjadi negara maju pada tahun 2020.(*)

Ahmad Sahidah Graduate Research Assistant dan Kandidat Doktor Ilmu Humaniora Universitas Sains Malaysia

Comments

Popular Posts