Mengajak Masyarakat Memilih Pemimpin

Hari minggu yang lalu, saya bersama Dr Jamhir, Pak Sugeng dan Pak Supri menunaikan tugas sebagai panitia pemilu di Pulau Pinang berupa pemasyarakatan pesan agar masyarakat Indonesia yang ada di sana menyukseskan pemilihan umum 2009. Dalam acara sosialisasi ini, panitia menyelenggarakan lomba karaoke untuk memancing para TKI datang. Bertempat di sebuah aula di Kompleks Tun Abdul Razak (KOMTAR), acara ini berlangsung sangat meriah karena didatangi banyak warga Indonesia.

Sebelumnya, kami melakukan pengecekan data pemilih di kantor konsulat dan pada jam 1-an akhirnya kami berempat menuju tempat acara di atas. Sebagai bagian program Panitia Pemilu di Luar Negeri, acara ini menyisipkan banyak gambaran tentang pahlawan devisa, yang menemukan oase bisa bertemu dengan saudaranya dan mempunyai panggung untuk mengaktualisasikan dirinya dengan bernyanyi. Bisa ditebak, kebanyakan peserta lomba karaoke membawakan lagu dangdut, seperti SMS, Kucing Garong, Selamat Malam, Hari Berbangkit, dan Buta. Dua terakhir adalah lagu Rhoma Irama. Tingkah polah mereka kadang memantik tawa karena gaya dandanan, ekspresi cuek dan tentu kadang diikuti penari latar dadakan yang menambah sesak panggung. Gelegak mereka terasa dan tentu saja ini baik sebagai katup dari kebosanan dengan rutinitas pekerjaan dan berada di negeri orang. Terus terang, gaya mereka tidak cocok untuk acara sejenis yang dihelat oleh penduduk lokal.

Hal lain yang mungkin dicermati adalah berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menghelat acara sosialisasi ini? Tentu mahal. Untuk sewa gedung saja, panitia harus merogoh kocek sekitar RM 8000 (hampir Rp 20 jutaan). Namun atas nama demokrasi, kita telah berkorban untuk mengeluarkan biaya yang sangat besar. Negara telah menanggung beban baru untuk melahirkan pemimpin yang bisa mengurus negeri ini.

Comments

Popular Posts