Kehilangan dan Kebaikan

Mungkin karena terburu-buru, saya meninggal anak kunci di kotak surat yang berada lantai bawah flat. Setelah kembali makan malam bersama kawan karib, Zulheri Rani, saya terkejut karena kunci itu raib dari saku celana. Kami pun kalang kabut. Di jok depan mobil pun, benda 'ajaib' itu pun tidak ada. Lalu, saya bergegas ke lantai delapan untuk memastikan apakah rumah kami dalam keadaan baik-baik saja. Ups, pintu terkunci dan namun ada pesan di sebuah kertas tulis putih, sila ambil kunci di rumah nomor sekian.

Duh, degup jantung ini mulai berjalan normal. Saya mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tak lama kemudian, tuan rumah, seorang lelaki muda, berkata, nak ambil kunci ya? Saya menukas cepat, ya. Saya mengucapkan terima kasih banyak. Tambahnya, dia telah mengetuk pintu untuk mengembalikan kunci, namun tidak ada suara. Ya, kami mungkin sedang menikmati ketupat di sebuah warung Relau. Meski gugup, sebab saya tidak berbicara banyak untuk menyatakan kegembiran atas kebaikannya. Lalu, kembali ke rumah untuk beristirahat setelah makan malam bersama Bunda dan Mas Ayi.

Kami pun bertiga ngobrol santai tentang pelbagai isu. Namun, di hati, saya masih menyisakan pertanyaan bagaimana membalas kebaikan keluarga tersebut. Sebenarnya, saya juga mengalami hal yang sama, ketika tiba-tiba menemukan kunci motor saya telah digantung di papan pengumuman depan lift. Ya, ada seseorang yang berbaik hati mengembalikan kunci yang mungkin tertinggal di motor atau jatuh di jalan. Inilah pengalaman yang telah menambatkan hati ini dengan flat tempat kami tinggal. Ia telah menjadi rumah yang menentramkan karena satu sama lain menjaga dan menebar kebaikan.

Pelajaran lain adalah saya telah banyak melakukan keteledoran. Ini disebakan kehendak menyelesaikan banyak hal dengan tergesa-gesa. Tidak tenang. Adakah ini pertanda awal tahun baru yang buruk? Saya rasa tidak. Sebab, saya justeru memulai dengan anugerah, dibantu orang lain dan tentu saya ingin melakukan hal yang sama.

Comments

Popular Posts